Sertifikasi Nasional Pertama bagi Penerjemah di Indonesia

Jul 18 2010 Published by under Uncategorized

Waktu Membaca: 2 menit

Tanggal 17 Juli 2010 kemarin merupakan salah satu hari bersejarah bagi profesi penerjemah di Indonesia. Untuk pertama kalinya, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) mengadakan tes sertifikasi nasional bagi anggotanya. Tes yang berlangsung di Jakarta ini dilaksanakan guna menanggapi kebutuhan akan surat bukti kompetensi profesi bagi penerjemah yang berlaku secara nasional.

Peserta Tes Sertifikasi Nasional (TSN) ini adalah penerjemah profesional yang menjadi anggota HPI. Untuk mengikuti TSN, anggota HPI harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu, seperti berpengalaman kerja sebagai penerjemah sedikitnya tiga tahun, mempunyai bukti hasil kerja berupa buku yang sudah diterbitkan atau dokumen yang sudah diterjemahkan. Anggota HPI juga diminta untuk menunjukkan partisipasinya dalam kegiatan organisasi HPI, baik dalam bentuk pelatihan, seminar, diskusi, maupun lokakarya. Selain itu, peran serta dalam kongres, forum, seminar tentang penerjemahan, baik tingkat internasional mau pun nasional, juga dijadikan sebagai pertimbangan seleksi untuk mengikuti TSN.

TSN yang memungut biaya sebesar Rp. 1.000.000. ini diadakan di Gedung Setiabudi 2, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta, dan tercatat 14 orang penerjemah anggota HPI mengikutinya. Dari peserta yang hadir, beberapa sengaja datang dari sejumlah daerah di Indonesia khusus untuk mengikuti tes ini. Materi tes yang berlangsung selama empat jam ini terdiri atas tiga bagian yang dikerjakan secara manual dengan tulisan tangan. Bagian pertama adalah untuk menguji ketepatan penyampaian pesan dalam terjemahan peserta. Dalam waktu 45 menit yang diberikan, peserta harus menerjemahkan sebuah teks umum sepanjang 486 kata. Bagian kedua menguji keterampilan menerjemahkan peserta. Di bagian ini, peserta diwajibkan untuk memilih salah satu teks yang disediakan yang terdiri dari berbagai bidang untuk diterjemahkan. Pilihan bidang yang disediakan antara lain hukum, sosiologi, ekonomi, sastra, dan kesehatan. Pada bagian yang terakhir, peserta diminta untuk menjawab pertanyaan tentang contoh kasus yang terkait dengan kode etik HPI. Kasus yang ditampilkan merupakan contoh kasus yang aktual dan dapat ditemui oleh penerjemah dalam kerjanya sehari-hari.

Bagi peserta tes yang lulus, HPI yang merupakan organisasi profesi penerjemah dan juru bahasa di Indonesia yang sudah diakui oleh organisasi penerjemah internasional (Fédération Internationale des Traducteurs) sejak tahun 1974 ini akan menerbitkan sertifikat yang menyatakan bahwa penerjemah yang bersangkutan mampu menjalankan tugasnya sebagai penerjemah profesional. Sertifikat ini berlaku secara nasional. Sesudah jangka waktu lima tahun, penerjemah harus mengikuti ujian penyegaran yang dilaksanakan oleh HPI guna mempertahankan sertifikatnya tersebut.

9 responses so far

Menghindari Jebakan Tarif Terjemahan Murah

Jul 01 2010 Published by under Uncategorized

Waktu Membaca: 2 menit

Banyak penerjemah yang memulai kariernya sebagai penerjemah profesional dengan tarif yang ‘bersaing’ [istilah sopan untuk mengatakan tarif yang terlalu rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku]. Tindakan ini biasanya dipilih sebagai strategi untuk menembus pasar terjemahan yang sudah ada karena penerjemah baru merasa tidak memiliki kelebihan lain yang dapat dijadikan sebagai daya saing.

Masalahnya kemudian, seiring waktu, dengan tarif yang terlalu murah, sang penerjemah biasanya akan kewalahan dengan banyaknya pekerjaan yang diterima. Akibatnya, penerjemah terpaksa harus meningkatkan kecepatan penerjemahannya untuk dapat memenuhi permintaan kliennya. Dalam kondisi seperti ini, penerjemah menjadi terjebak: penerjemah tidak kuasa menolak pekerjaan yang banyak masuk karena pertimbangan finansial; tapi dengan menerima pekerjaan tersebut, penerjemah tidak dapat berkomitmen untuk menghasilkan terjemahan bermutu. Pekerjaan yang tergesa-gesa selalu berisiko menghasilkan terjemahan dengan mutu rendah.

Salah satu solusinya sebenarnya cukup jelas: penerjemah harus menaikkan tarif terjemahannya agar tetap bisa memperoleh pendapatan yang sama dengan beban kerja yang lebih ringan. Namun, tentunya cara ini tidak dapat mentah-mentah diterapkan begitu saja. Jika tiba-tiba saja kita menaikkan tarif terjemahan kita untuk semua klien, bukan tidak mungkin kita akan langsung kehilangan sebagian besar klien langganan kita. Bisa dibayangkan jika ini dialami pada seseorang yang pendapatannya sepenuhnya berasal dari hasil kerja terjemahan (penerjemah full-time). Penerjemah bisa kehilangan penghidupannya dengan seketika.

Untuk menghindari hal tersebut, kenaikan tarif bisa dilakukan perlahan-lahan secara selektif. Penerjemah juga harus terus mencari klien baru yang bersedia membayar tarif yang sesuai dengan kualitas terbaik yang kita tawarkan. Jadi, misalnya, jika saat ini kita sudah memiliki cukup banyak klien langganan dengan tarif yang sama, ketika kita bisa menemukan satu klien baru dengan tarif yang lebih tinggi dan berpotensi menjadi langganan, kita bisa mengajukan kenaikan tarif ke satu klien yang lama. Jika klien lama itu menolak tarif baru yang kita ajukan dan berhenti menggunakan jasa kita, pendapatan dari klien baru itu bisa menggantikannya. Sebaliknya, jika klien itu menerima tarif baru tersebut, kita bisa menerapkan kenaikan tarif ini ke klien lama lainnya, dan seterusnya satu per satu. Dengan cara ini, kita bisa terus bekerja menghasilkan mutu terjemahan yang kita harapkan dan tetap mendapatkan penghasilan yang kita inginkan.

7 responses so far

Terjemahan Mesin Bukan Terjemahan Manusia

Jun 02 2010 Published by under Uncategorized

Waktu Membaca: 3 menit

Seiring berkembangnya teknologi, penerjemahan pun tidak bisa terhindar dari pengaruhnya. Penerjemahan saat ini hampir selalu melibatkan penggunaan teknologi. Secara umum, berdasarkan subjek dan teknologinya, kita bisa menyebut dua jenis terjemahan: terjemahan manusia dan terjemahan mesin. Pada terjemahan manusia, proses penerjemahan dilakukan sepenuhnya oleh manusia atau dengan bantuan teknologi komputer. Jika menggunakan bantuan teknologi komputer, penerjemahan ini dikenal juga dengan nama penerjemahan berbantuan komputer (Computer Assisted Translation – CAT). Sedang pada terjemahan mesin, proses penerjemahan biasanya dilakukan oleh mesin dengan bantuan manusia. Penerjemahan ini disebut juga dengan penerjemahan berbantuan manusia (Human Assisted Translation).

Proses penerjemahan berbantuan komputer (CAT) kurang lebih sama dengan proses penerjemahan manual. Penerjemah harus membaca, memahami teks bahasa sumber, menemukan padanannya, dan kemudian menuliskannya ke dalam teks bahasa target. Proses penerjemahan sepenuhnya dilakukan oleh penerjemah (manusia). Alat bantu penerjemahan (CAT tool) hanya digunakan oleh penerjemah untuk memudahkan proses penerjemahan. Beberapa jenis program komputer yang umum dijadikan alat bantu antara lain perangkat Memori Terjemahan (Translation Memory – TM), program kamus elektronik, program manajemen terminologi (Terminology Management), program pengolah kata (word processor), program pemeriksa ejaan dan tata bahasa, dan sebagainya.

Sebaliknya, pada terjemahan mesin (Machine Translation -MT), proses penerjemahan semuanya dilakukan oleh mesin (komputer). Salah satu contoh mesin MT yang mungkin paling populer saat ini adalah Google Translate. Ketika menerjemahkan dengan Google Translate, pengguna tidak perlu terlibat dalam proses penerjemahannya. Pengguna cukup memasukkan teks bahasa sumber yang akan diterjemahkan, menjalankan mesin Google Translate, dan akan langsung mendapatkan hasil terjemahan dalam bahasa target. Pengguna hanya bertugas membantu menjalankan proses penerjemahan yang otomatis dilakukan oleh Google Translate.

Proses penerjemahan yang terjadi di dalam mesin tidak mengikuti proses penerjemahan manual pada umumnya. Mengingat proses ini sepenuhnya dilakukan oleh mesin, unsur bahasa pun diubah menjadi unsur yang dapat dikomputasikan oleh mesin. Pada Google Translate, yang merupakan MT berbasis statistik [Jenis MT lainnya adalah MT berbasis aturan tata bahasa, MT berbasis pengetahuan (KBTS), dan sebagainya], proses penerjemahan tidak banyak melibatkan pertimbangan linguistik. Google Translate hanya memindai sebuah kumpulan teks yang besar, yang berisi teks dalam bahasa sumber dan teks bahasa target yang sepadan, untuk kemudian dianalisis berdasarkan rumus-rumus statistik. Dari hasil analisis itu terciptalah data yang dapat digunakan sebagai basis untuk menerjemahkan.

Contohnya, jika dalam sebuah teks yang sepadan mesin Google Translate menemukan bahwa kata “book” muncul paling sering dalam teks bahasa Inggris, sementara dalam teks bahasa Indonesia kata yang paling sering muncul adalah “buku”, maka Google Translate akan menganggap “book” sebagai terjemahan dari “buku” [tentu saja dalam proses sesungguhnya runtutan prosesnya tidak sesederhana ini]. Kualitas terjemahan pun bergantung pada keakuratan rumus statistika yang digunakan dan kualitas teks sepadan yang dianalisis, bukan pada keterampilan bahasa yang dimiliki oleh mesin tersebut.

Mengenai kualitas terjemahan mesin, Google Translate sendiri mengakui dalam situs  mereka bahwa mesin penerjemahan yang paling canggih sekali pun saat ini belum dapat mendekati kualitas bahasa seorang penutur asli atau belum memiliki ketrampilan seorang penerjemah profesional.  Dengan tegas, Google Translate juga mencantumkan bahwa mereka mungkin akan memerlukan waktu yang lama sebelum dapat menawarkan terjemahan dengan kualitas terjemahan manusia.

Ukuran keterlibatan manusia pada proses terjemahan mesin berbanding terbalik dengan ukuran keterlibatan mesin pada penerjemahan berbantuan komputer. Pada MT, manusia hanya pembantu, sedang pada penerjemahan berbantuan komputer, mesinlah yang membantu pekerjaan manusia. Dalam proses MT, penerjemah biasanya hanya dilibatkan dalam proses penyuntingan. Ketika penerjemahan telah dilakukan oleh MT, penerjemah diminta untuk menyunting hasil akhir terjemahan. Penyuntingan seperti ini biasanya tidak akan banyak meningkatkan kualitas hasil terjemahan MT. Dengan demikian, kualitas akhir hasil terjemahan pun sebagian besar akan ditentukan oleh kualitas terjemahan MT. Sebaliknya pada terjemahan manusia, kualitas akan ditentukan oleh kualitas penerjemah tersebut, bukan oleh alat bantu penerjemahan yang digunakan.

Perangkat MT sendiri tidak dapat dikatakan sebagai sekedar alat bantu penerjemahan karena porsi kerja perangkat MT dalam penerjemahan mesin lebih besar dari pada penerjemah yang hanya melakukan penyuntingan. Oleh karena itu, hasil terjemahan MT tidak bisa disebut sebagai hasil terjemahan manusia, melainkan hasil terjemahan mesin. Jika Anda adalah pengguna terjemahan, dengan adanya fasilitas MT yang mudah diakses seperti Google Translate, Anda harus selalu menanyakan ke penerjemah sebelum melakukan kesepakatan kerja, apakah penerjemah akan menggunakan terjemahan mesin atau tidak. Jika yang Anda harapkan dari hasil terjemahan tersebut adalah hasil terjemahan manusia, dengan kualitas terjemahan manusia, maka sebaiknya Anda tidak bekerja sama dengan penerjemah yang menggunakan MT dalam proses penerjemahannya. Sebaliknya, jika Anda adalah penerjemah, Anda harus selalu bersikap etis dengan memberi tahu kepada klien Anda apakah proses penerjemahan Anda akan melibatkan MT atau tidak. Bagi pengguna alat bantu penerjemahan, masalah etika ini ke depannya dapat dipastikan akan semakin kabur mengingat sekarang ini beberapa perangkat TM mulai memasukkan MT sebagai salah satu fiturnya.

8 responses so far

« Prev - Next »