Kalau dalam kehidupan nyata, mungkin sepertinya ini alur proses menerjemahkan yang menggunakan pendekatan Formal Equivalence:
20/09/2012
Proses Menerjemahkan dengan Pendekatan Formal Equivalence
19/09/2012
Tetes dana terjemahan dari perusahaan internasional
Kira-kira seperti inilah dana terjemahan mengalir (atau menetes) dari perusahaan internasional sampai ke telapak tangan penerjemah lepas di Indonesia:
Menurut penerawangan saya, tiap turun satu jenjang tarif per kata bisa terpotong sekitar 40%.
Untuk penerjemah lepas, jika ingin memaksimalkan pendapatan salah satu caranya dengan naik ke jenjang berikutnya. Jadi alih-alih kerja dengan agensi Indonesia, kerjalah dengan agensi regional, dst.
Tetapi cara seperti ini juga ada batasnya. Tidak semua perusahaan klien mau mengurusi tetek bengek dengan penerjemah lepas. Bayangkan saja kalau produk mereka harus dillokalkan ke 35 bahasa misalnya. Ribet kalau perusahaan harus kontak langsung dengan 35 penerjemah lepas, belum lagi nanti ada masalah legal, dsb. Itu sebabnya hierarki seperti ini tercipta.
Tantangan lainnya, penerjemah boleh berusaha naik ke jenjang berikutnya, tapi agensi internasional juga terus berusaha turun. Cara yang umum biasanya mereka mendirikan kantor di banyak negara (atau sekadar mencari karyawan virtual). Jadi otomatis mereka bisa memotong jenjang agensi regional (atau bahkan nasional). Berbekal ini, mereka biasanya akan mengetuk pintu penerjemah langsung menyodorkan tarif yang lumayan rendah dengan alasan, “Kami kan perusahaan lokal. Jangan tinggi-tinggi dong tarifnya”.
Lingkaran Setan
Apakah kita sudah terjebak di lingkaran setan ini? Karena tarif terjemahan yang kita pasang terlalu murah, kita jadi kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya, kita lembur 22 jam sehari (yang 2 jam untuk ke kamar mandi), melebihi batas kewajaran. Hasil terjemahan menjadi tidak wajar pula. Rasa kantuk dan lelah mendorong kualitas terjemahan kita ke titik terendah. Dari situ jalan semakin menurun, karena kualitas rendah, tarif kita semakin ditekan rendah oleh klien, dst.
Mengatasi masalah ini tidak bisa hanya mengharapkan belas kasihan dari klien untuk menaikkan tarif kita. Sampai kapan pun yang namanya klien pasti akan cari penerjemah terbaik dengan tarif termurah untuk mengoptimalkan pengeluaran mereka. Kodratnya memang seperti itu. Yang bisa kita utak-atik ya dari kita sendiri. Sebagai penerjemah kalau ditawari pekerjaan dengan tarif yang kelewat rendah oleh klien apakah kita berani menolaknya?

