Menghindari Jebakan Tarif Terjemahan Murah

Banyak penerjemah yang memulai kariernya sebagai penerjemah profesional dengan tarif yang ‘bersaing’ [istilah sopan untuk mengatakan tarif yang terlalu rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku]. Tindakan ini biasanya dipilih sebagai strategi untuk menembus pasar terjemahan yang sudah ada karena penerjemah baru merasa tidak memiliki kelebihan lain yang dapat dijadikan sebagai daya saing.

Masalahnya kemudian, seiring waktu, dengan tarif yang terlalu murah, sang penerjemah biasanya akan kewalahan dengan banyaknya pekerjaan yang diterima. Akibatnya, penerjemah terpaksa harus meningkatkan kecepatan penerjemahannya untuk dapat memenuhi permintaan kliennya. Dalam kondisi seperti ini, penerjemah menjadi terjebak: penerjemah tidak kuasa menolak pekerjaan yang banyak masuk karena pertimbangan finansial; tapi dengan menerima pekerjaan tersebut, penerjemah tidak dapat berkomitmen untuk menghasilkan terjemahan bermutu. Pekerjaan yang tergesa-gesa selalu berisiko menghasilkan terjemahan dengan mutu rendah.

Salah satu solusinya sebenarnya cukup jelas: penerjemah harus menaikkan tarif terjemahannya agar tetap bisa memperoleh pendapatan yang sama dengan beban kerja yang lebih ringan. Namun, tentunya cara ini tidak dapat mentah-mentah diterapkan begitu saja. Jika tiba-tiba saja kita menaikkan tarif terjemahan kita untuk semua klien, bukan tidak mungkin kita akan langsung kehilangan sebagian besar klien langganan kita. Bisa dibayangkan jika ini dialami pada seseorang yang pendapatannya sepenuhnya berasal dari hasil kerja terjemahan (penerjemah full-time). Penerjemah bisa kehilangan penghidupannya dengan seketika.

Untuk menghindari hal tersebut, kenaikan tarif bisa dilakukan perlahan-lahan secara selektif. Penerjemah juga harus terus mencari klien baru yang bersedia membayar tarif yang sesuai dengan kualitas terbaik yang kita tawarkan. Jadi, misalnya, jika saat ini kita sudah memiliki cukup banyak klien langganan dengan tarif yang sama, ketika kita bisa menemukan satu klien baru dengan tarif yang lebih tinggi dan berpotensi menjadi langganan, kita bisa mengajukan kenaikan tarif ke satu klien yang lama. Jika klien lama itu menolak tarif baru yang kita ajukan dan berhenti menggunakan jasa kita, pendapatan dari klien baru itu bisa menggantikannya. Sebaliknya, jika klien itu menerima tarif baru tersebut, kita bisa menerapkan kenaikan tarif ini ke klien lama lainnya, dan seterusnya satu per satu. Dengan cara ini, kita bisa terus bekerja menghasilkan mutu terjemahan yang kita harapkan dan tetap mendapatkan penghasilan yang kita inginkan.

7 thoughts on “Menghindari Jebakan Tarif Terjemahan Murah

  1. Terima kasih atas komentarnya di blog saya, Mas. Wah, wah, rumit juga bekerja sebagai seorang penerjemah. Tapi enak ya, Mas? Saya dalam waktu dekat ini ingin menerjemahkan blog saya ke bahasa Inggris. Ya, berbekal semua ilmu yang pernah saya dapat dari sekolah. 😀 Semangat terus, ya! Saya mendukung!

  2. wahh.. nice info . benar tuh.. kalo penaikannya langsung 5 kali lipad,
    tak jamin kliennya langsung habis ! wkwkwk 😀
    tapi.. apakah cara penaikan tuhh cara yg paling ampuh, mengingad orang jaman skarang lebih suka yg murah-murah ?

  3. akhir’a jadi serba salah ya gan.
    tapi dimana-mana yang nama’a konsumen pasti nyari yang murah gan, kalau kebanjiran order itu rizki nama’a. hehehe
    lam kenal yah

  4. Artikel yang menarik. Saya juga pernah mengalami klien yang menaikkan tarifnya tanpa diminta, lumayan lagi, 50%. Seingat saya waktu itu saya berkali-kali menolak pekerjaan dari klien tersebut, eh malah dinaikkan tarifnya. Sampai sekarang klien ini masih jadi klien setia saya (sebuah agen) Saya pikir kalau hasil kerja kita bagus tarif akan naik dengan sendirinya seiring waktu dan sesuai mutu sebagaimana berlaku di bidang pekerjaan lain

  5. kalo cara lain ada gak yah untuk menminimalisir kehilangan (kemungkinan) klien?terima kasi…salam dari semarang juga buat mas ade

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *