Bermitra dengan Agensi: Kerja Penerjemah Sebagai Bagian dari Sebuah Tim

Pendahuluan

Dalam menjalankan profesinya, seorang penerjemah lepas dapat memilih untuk bekerja dengan agensi penerjemahan. Bekerja dengan agensi berbeda dengan bekerja dengan klien akhir yang langsung menggunakan hasil kerja penerjemah. Proses penerjemahan yang dilakukan pada agensi biasanya melalui banyak tahapan dan melibatkan banyak pihak. Proses yang panjang ini menuntut penerjemah untuk bekerja sebagai bagian dari sebuah tim.

Kerja tim ini akan menjadi masalah ketika penerjemah sudah terbiasa bekerja sendiri. Penerjemah yang banyak bekerja dengan klien akhir biasanya tidak akan perlu banyak berhubungan dengan klien, kecuali saat menerima dan menyerahkan hasil terjemahan. Proses penerjemahan akan dilalui penerjemah sendiri. Sebaliknya, bekerja dengan agensi akan menuntut keterlibatan penerjemah yang lebih dalam. Penerjemah dituntut untuk tidak sekedar menjadi pekerja yang dibayar agensi untuk memberikan hasil akhir terjemahan, namun juga menjadi mitra kerja agensi dalam menghasilkan hasil yang terbaik untuk klien.

Makalah ini disusun untuk memberikan gambaran singkat mengenai hubungan antara penerjemah lepas dan agensi penerjemah. Membaca makalah ini, penerjemah diharapkan dapat melihat dirinya sebagai mitra bagi agensi dan dengan demikian dapat menempatkan dirinya dalam posisi yang tepat saat menjalin hubungan dengan agensi.

Penerjemah

Sebagai profesi, ada beberapa jenis pekerjaan terjemahan yang dapat dilakukan oleh penerjemah. Berdasarkan kliennya, misalnya, kita dapat menyebut beberapa, seperti penerjemah buku yang bekerja untuk penerbit, penerjemah lepas yang bekerja dengan agensi, atau penerjemah yang menjadi karyawan di suatu perusahaan. Masing-masing jenis pekerjaan tersebut memiliki sifat pekerjaan dan kebutuhan keterampilan yang berbeda-beda.

Penerjemah buku harus memiliki daya tahan yang tinggi dalam menerjemahkan, mengingat biasanya ia harus menerjemahkan buku sendirian dari awal sampai akhir. Penerjemah perusahaan harus mau menerima berbagai pekerjaan terjemahan yang diberikan oleh divisi-divisi lain dalam perusahaannya. Sementara penerjemah yang bekerja dengan agensi pada umumnya harus siap menerima pekerjaan terjemahan yang subjeknya berlainan dan dalam tenggat yang sangat ketat, sering kali hanya dalam hitungan jam. Penggunaan kata penerjemah dalam makalah ini mengacu pada penerjemah yang bekerja dengan agensi tersebut.

Agensi Terjemahan

Agensi sendiri pada dasarnya adalah perusahaan yang menjadi perantara antara klien akhir dengan penerjemah lepas. Klien akhir ini seringnya merupakan perusahaan-perusahaan besar yang harus menerjemahkan materi mereka ke beberapa bahasa sekaligus. Bagi mereka akan lebih mudah untuk menghubungi satu agensi yang menangani beberapa bahasa daripada harus mencari sendiri penerjemah untuk masing-masing bahasa yang mereka butuhkan.

Terlepas dari kerja utamanya sebagai perantara, agensi yang baik biasanya tidak akan hanya menjadi makelar terjemahan. Agensi yang hanya menjadi makelar tejemahan biasanya hanya mempekerjakan beberapa karyawan yang tugasnya bukan untuk menerjemahkan tapi sekedar melempar pekerjaan terjemahan. Pekerjaan dari klien langsung dikirim ke penerjemah dan kemudian setelah menerima hasil terjemahan dari penerjemah langsung dikirimkan kembali ke klien.

Dalam makalah ini agensi yang kita bicarakan bukan agensi semacam tersebut. Agensi yang kita maksudkan di sini adalah agensi yang memberikan nilai tambah ke dalam hasil terjemahan penerjemah, baik secara langsung atau tidak langsung. Agensi ini misalnya mempekerjakan penerjemah sebagai karyawan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hasil terjemahan penerjemah lepas atau memberikan nilai tambah dengan menciptakan suatu sistem yang dapat menjamin mutu hasil terjemahan yang diserahkan ke klien.

Hubungan antara Agensi dan Penerjemah

Pada dasarnya, hubungan antara penerjemah dengan agensi sebenarnya adalah setara. Penerjemah merupakan mitra agensi; agensi merupakan mitra penerjemah. Mengingat status hubungan kerja antara penerjemah dengan agensi pada umumnya adalah penerjemah lepas, agensi tidak dapat memperlakukan penerjemah sebagai karyawan atau bawahannya. Hal yang sama juga berlaku bagi penerjemah. Penerjemah harus mengingat status hubungan ini dalam setiap interaksinya dengan agensi. Sebagai mitra, segala keputusan atau langkah yang diambil dalam hal kewajiban dan hak masing-masing pihak harus dibicarakan secara bersama.

Penerjemah tidak perlu serta merta menerima setiap keputusan agensi apabila hal tersebut bertentangan dengan kesepakatan awal antara keduanya. Sebaliknya, penerjemah juga harus menghormati kesepakatan dan komitmen yang telah ditetapkan bersama. Contohnya, misal, apabila sejak mula penerjemah dan agensi telah sepakat mengenai standar yang akan digunakan untuk menilai hasil terjemahan penerjemah, maka penerjemah harus rela untuk mengerjakan atau memperbaiki hasil terjemahannya kembali apabila ternyata hasilnya tidak sesuai standar tersebut. Sebaliknya, apabila dari awal ada kesepakatan bahwa penerjemah akan bekerja sebagai penyunting hasil terjemahan penerjemah lain untuk sebuah manual telepon seluler misalnya, maka penerjemah berhak meminta bayaran tambahan apabila agensi meminta penerjemah untuk melakukan peninjauan terhadap hasil terjemahan yang telah diformat dalam bentuk akhir, kecuali hal ini telah dibicarakan sebelumnya

Kerja Penerjemah dengan Agensi

Setelah menjalin kesepakatan dengan agensi, penerjemah otomatis juga menjadi bagian dari sistem atau proses yang dibuat oleh agensi. Penerjemah yang bekerja dengan agensi menjalankan tugas yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya masing-masing. Seorang penerjemah bisa mendapatkan tugas menerjemahkan, menyunting hasil terjemahan penerjemah lain, melakukan pengujian akhir pada hasil terjemahan sebelum diserahkan ke klien oleh agensi seperti contoh di atas, atau bahkan bahkan mengkoordinir penerjemah-penerjemah lain dalam suatu proyek.

Salah satu hal yang menjadi ciri dalam bekerja dengan agensi adalah tenggat yang relatif singkat. Materi yang diberikan agensi untuk dikerjakan penerjemah seringnya berupa materi situs web, perangkat lunak, bahan-bahan pemasaran, buku petunjuk produk elektronik, dan lain-lain. Materi-materi semacam ini biasanya cepat diperbarui dan diganti sehingga penerjemahan perlu dilakukan sesegera mungkin. Penerjemah yang bekerja dengan agensi biasanya akan sering dikejar tenggat yang bahkan mungkin hanya beberapa jam saja.

Hal ini patut menjadi pertimbangan bagi penerjemah yang akan bekerja dengan agensi. Apabila penerjemah memiliki pekerjaan penuh waktu, biasanya akan sulit untuk memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan agensi dengan baik. Agensi biasanya mengharapkan dapat berkomunikasi dengan penerjemahnya dengan efektif. Penerjemah yang hanya memeriksa email-nya satu hari sekali misalnya, kemungkinan besar akan sulit dapat bekerja dengan agensi yang seringkali harus memberikan informasi atau perubahan dalam hitungan jam.

Selain itu, dalam bermitra dengan agensi, penerjemah diharapkan dapat menjalankan perannya secara profesional. Mengingat dalam tim penerjemahan tiap pihak memiliki tugas masing-masing, diharapkan penerjemah dapat menjalankan tugas yang diberikan dengan baik tanpa perlu memberikan beban kerja tambahan kepada pihak lain. Apabila seorang penerjemah bertugas untuk menerjemahkan, hendaknya ia tidak perlu menanyakan hal-hal teknis terjemahan kepada agensi setiap saat. Jika setiap kali menemui kata tertentu yang bersinonim, penerjemah bertanya kepada agensi kata yang mana yang akan digunakan, ini sama saja penerjemah melemparkan pekerjaannya ke agensi. Agensi tentunya akan tidak tertarik untuk bermitra dengan penerjemah yang tidak mempunyai kepercayaan diri untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan teknis profesinya sendiri.

Terjemahan sebagai Kerja Tim

Dalam memenuhi proses penerjemahan, penerjemah akan berhubungan dengan banyak pihak, baik secara langsung atau tidak. Dalam hal ini, terjemahan bukanlah sekedar tugas terpisah yang harus diselesaikan penerjemah, tapi merupakan bagian dari sebuah proses yang melibatkan banyak orang. Sebuah materi terjemahan paling tidak akan bergerak dari klien, manajer proyek, penerjemah, penyunting, penata letak, penguji, penyunting klien, dan kembali ke klien.

Hubungan antara pihak-pihak ini tentunya tidak linear. Ada kalanya teks yang telah diterjemahkan penerjemah sebelum diserahkan ke penata letak oleh proyek manajer dikembalikan lagi ke penerjemah karena ada beberapa kesalahan yang ditemukan penyunting dan harus diperbaiki oleh penerjemah. Kadang misalnya juga sebelum kembali ke klien, jika penyunting klien menemukan sesuatu kesalahan yang lain atau ingin mengubah istilah yang digunakan secara keseluruhan dalam materi tersebut, teks dapat dikembalikan ke penerjemah atau penyunting. Dalam proses terjemahan ini penerjemah akan dituntut untuk dapat bekerja dengan pihak lainnya.

Mengingat sifat dasar pekerjaan ini sendiri, tidak jarang penerjemah mengalami kesulitan dalam bekerja dengan pihak lain. Penerjemahan dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang individualis. Gambaran umum yang biasanya dipahami dari kerja penerjemah adalah penerjemah duduk sendiri di ruang kerjanya di depan komputer sepanjang hari, menyelesaikan terjemahannya, dan mengirimkannya ke klien setelah selesai. Dengan pola kerja seperti ini, penerjemah biasanya memiliki ego yang cukup tinggi. Setelah mencurahkan seluruh daya dan upaya dalam menyelesaikan sebuah terjemahan, penerjemah biasanya tidak akan merelakan begitu saja hasil terjemahannya diubah-ubah oleh orang lain.

Ada banyak kasus di mana penerjemah akan marah apabila pilihan kata yang digunakan dalam terjemahannya diubah dengan kata lain yang dirasa lebih tepat oleh penyunting. Bisa dibayangkan apabila agensi memperkerjakan seorang penerjemah yang memiliki sifat yang sama seperti ini. Sebuah masalah kecil, perbedaan pemilihan kata yang tidak esensial misalnya, dapat menjadi masalah yang berkepanjangan. Masalah seperti ini pada akhirnya akan dapat melonjakkan biaya produksi dan berisiko membuat proyek tidak dapat selesai tepat waktu.

Bekerja sebagai bagian dari sebuah tim

Sebagai bagian dari sebuah tim, penerjemah hendaknya dapat melihat gambaran besar pekerjaan yang dilakukannya. Penerjemah perlu menyadari bahwa proses terjemahan yang dikerjakannya dengan agensi memiliki tahapan yang luas dan melibatkan banyak pihak. Dengan kesadaran ini, diharapkan penerjemah dapat lebih terbuka dan dapat menerima perbedaan pendapat yang mungkin ada. Penerjemah tentu tidak boleh menerima begitu saja ketika hasil terjemahannya yang sudah benar diganti hingga menjadi keliru oleh penyunting misalnya. Namun, hendaknya selalu ada ruang untuk berdiskusi ketika masalah yang ada hanyalah masalah preferensial saja.

Mengingat agensi biasanya sudah memiliki sistem tersediri, dengan menjalin kemitraan dengan agensi, penerjemah berarti menyetujui untuk mengikuti sistem tersebut. Apabila, dalam prosesnya misalnya penerjemah menemukan kekurangan atau kesalahan pada sistem yang dapat menurunkan atau berisiko pada kualitas akhir hasil terjemahan, penerjemah selalu diharapkan untuk dapat memberikan masukan kepada agensi. Perlu diingat juga, pemberian masukan ini juga harus dilakukan kepada pihak yang tepat karena mengingat kompleksitas sistem dalam sebuah proses terjemahan, tidak semua pihak yang terlibat dapat memberikan tanggapan atau respons nyata terhadap masukan tersebut.

Misal, apabila penerjemah menemui masalah dalam memenuhi tenggat waktu yang ditentukan, hendaknya ia mengutarakan hal ini kepada proyek manajer alih-alih kepada penyunting klien. Dalam hal ini masalah tenggat pada umumnya dikelola oleh manajer proyek dan bukan penyunting klien. Pengutaraan masalah ini kepada penyunting kemungkinan besar tidak akan membuat penerjemah mendapatkan perpanjangan tenggat.

Penutup

Dalam berhubungan dengan agensi, penerjemah harus selalu mengingat bahwa posisi mereka adalah sebagai mitra. Posisi mitra ini berarti antara penerjemah dan agensi adalah setara dan keduanya memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Dengan kesetaraan ini, penerjemah hendaknya tidak merasa rendah diri bila berhadapan dengan agensi, terutama dalam membicarakan masalah-masalah kesepakatan kerja sama. Penerjemah perlu melihat dirinya sebagai bagian dari sebuah tim dalam bermitra dengan agensi.

Terlepas dari kemitraan yang dijalin, perlu diingat bahwa agensi adalah badan usaha, sebuah entitas yang berorientasi pada laba. Dengan demikian, pertimbangan yang akan dilakukan agensi pun sebagian besar akan didasari pada pertimbangan keuntungan. Karena itu hendaknya seorang penerjemah sebagai pekerja lepas tidak terlalu bergantung pada satu agensi saja. Sangat berisiko jika kita menggantungkan hidup pada sebuah agensi yang dapat setiap saat menghentikan order yang diberikan kepada kita, mengingat status pekerja lepas kita.

Disajikan dalam Seminar Bahtera Goes to Jogja, Yogyakarta, 11 April 2009, Fakultas Ilmu Budaya UGM

7 thoughts on “Bermitra dengan Agensi: Kerja Penerjemah Sebagai Bagian dari Sebuah Tim

  1. makasih infonya mas. kebetulan saya juga penerjemah freelance di penerbitan. pengen gabung juga dengan agensi, biar kerjaan ada terus. gimana caranya ya

  2. Dear Pak Ade,

    Kenalkan, nama saya Vinny, penerjemah bahasa Jepang-Indonesia pemula. Saya bekerja di perusahaan PMA sebagai penerjemah bahasa Jepang-Indonesia, Indonesia-Jepang.

    Saya tertarik untuk belajar lebih dalam tentang penerjemahan, dan mengikuti UKP teks hukum, dimanakah saya bisa belajar tentang ini?

    Saya sudah browsing brosur mengenai HPI juga, dan saya ingin bergabung dengan HPI. Mungkin sebagai penerjemah pemula. Tapi, saya belum mempunyai referensi dari anggota yang sudah terdaftar di HPI. Untuk itu, maukah Bapak membimbing saya untuk menjadi anggota HPI dan membimbing saya untuk belajar untuk menjadi penerjemah tersumpah?

    Mohon balas melalui email saya

    Terimakasih atas bantuannya, dan maaf telah banyak mengganggu.

    Salam hangat,

    Vinny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *