Archive for the 'Uncategorized' Category

Berapa Lama untuk Jadi Penerjemah?

Jul 28 2015 Published by under Uncategorized

Waktu Membaca: 3 menit

“Saya seorang pemula dalam dunia penerjemahan. Apakah karena saya seorang pemula saya harus menunggu lama untuk dapat proyek?”

Saya agak bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan yang dilempar ke milis Bahtera ini. Saya yakin kalau sebagai penerjemah pemula kita hanya menunggu, sampai kapan pun kemungkinan dapat proyek terjemahan sangatlah kecil.

Saya rasa tidak ada orang yang tiba-tiba saja berubah dari penerjemah pemula menjadi penerjemah senior yang kebanjiran proyek dalam satu malam. Ada proses yang harus dilalui dan proses ini memerlukan waktu yang tidak singkat dan usaha yang tidak sedikit.

Apalagi jika kita hanya menunggu tanpa melakukan apapun. Seseorang disebut sebagai penerjemah karena dia menerjemahkan. Kalau ingin menjadi penerjemah, tentu kita tidak boleh hanya diam dan tidak melakukan kerja penerjemahan.

Mulanya

Cerita awal mula saya mendapat proyek terjemahan agak datar karena memang saya berlatar belakang pendidikan Sastra Inggris. Karier saya sebagai penerjemah terbangun pelan-pelan selangkah demi selangkah sejak kuliah.

Saya ingat sejak semester pertama saya menyandang status mahasiswa Sastra Inggris, orang-orang di sekeliling saya mulai bertanya apakah saya bisa menerjemahkan. Saya baru mulai berani menjalin kerja sama dengan sebuah rental komputer di belakang rumah kos saya ketika masuk tahun kedua kuliah. Si empunya rental waktu itu sering melihat saya mengetik dalam Bahasa Inggris dan mengajak saya bekerja sama. Dia menerima order terjemahan di rentalnya dan meminta saya untuk mengerjakannya.

Setelah itu, saya terus menambah outlet saya dengan bermitra dengan rental komputer lainnya di sekitar kos dan kampus. Puncaknya ada 5-6 rental komputer yang mensuplai proyek terjemahan ke saya. Tarifnya waktu itu memang tidak seberapa tapi lebih dari cukup buat saya yang masih mahasiswa dan cukup menyibukkan saya yang hanya bekerja paruh waktu.

Dua tahun setelah saya mulai menerjemahkan secara profesional. Saya mulai berani bercerita kepada teman dan keluarga saya kalau saat itu saya bekerja sebagai sebagai penerjemah lepas. Saya pun kemudian mulai mendapatkan proyek terjemahan dari teman, temannya teman, dan koneksi lainnya di lingkungan kampus.

Tarif terjemahan untuk klien perseorangan seperti ini tentunya lebih tinggi dari pada yang saya dapat dari rental. Volumenya juga biasanya lebih besar karena materi yang harus diterjemahkan biasanya berupa makalah dan karya ilmiah lainnya. Dari satu klien saja saya bisa mendapatkan order hingga beratus-ratus halaman dokumen.

Proyek luar negeri

Periode penerjemah rental dan klien perseorangan itu juga saya jalani selama dua tahun hingga saya mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah agensi terjemahan. Momen bekerja di agensi ini paling berkesan buat saya karena saya belajar banyak hal di sana tentang bisnis terjemahan internasional.

Agensi tempat saya bekerja sebagian besar kliennya adalah klien internasional. Saya di sini mulai belajar tentang CAT tool, korespondensi via email, membuat proposal penawaran, mengirim invoice, dsb. Pada tahun yang sama saya juga berkenalan dengan milis Bahtera, mengikuti seminar penerjemahan pertama saya di UI, dan juga menjadi anggota Himpunan Penerjemah Indonesia.

Ketika itu saya tetap bisa bekerja sebagai penerjemah paruh waktu karena kebijakan perusahaan tidak melarang karyawannya bekerja lepas setelah jam kerja. Saya mulai berhenti menerima proyek dari rental komputer karena tarifnya semakin terasa terlalu rendah. Sebagai gantinya, saya mengerjakan proyek dari kantor di malam hari yang dibayar sebagai pekerjaan lepas.

Selain itu, saya juga mulai membuat profil di Proz dan Translatorscafe. Hampir setiap hari ketika itu saya mengirimkan lamaran dan mengajukan penawaran ke agensi-agensi yang ada di kedua situs itu.  Proyek dari luar negeri pertama saya dapat sekitar 4 tahun sejak saya mulai menerjemahkan. Proyek ini saya dapat sendiri dari Proz, bukan dari agensi tempat kerja saya. Butuh waktu sekitar 1 bulan sejak saya mulai mengirimkan lamaran ke banyak agensi hingga mendapatkan proyek itu.

Penerjemah lepas full-time

Lima tahun sejak pertama kali menerima order terjemahan, portofolio klien saya sudah lumayan lengkap: Saya masih punya klien perseorangan yang setia mengirimkan order terjemahan. Saya bekerja sama dengan beberapa agensi terjemahan lokal yang rajin mengirimkan pekerjaan kepada saya. Saya selalu punya setidaknya satu order terjemahan buku dari penerbit yang bisa saya kerjakan ketika order yang lain sedang sepi. Saya juga mempunyai beberapa langganan agensi luar negeri yang secara berkala mengirimkan order terjemahan kepada saya.

Ketika itu pendapatan saya dari pekerjaan lepas saya mencapai berkali-kali lipat dari gaji saya di kantor. Saya pun memutuskan untuk keluar dan menjadi penerjemah lepas full-time. (Beberapa tahun kemudian saya pindah ke Singapura untuk menjadi penerjemah in-house tapi itu lain cerita).

Jalur karier ideal

Menjawab pertanyaan di awal tadi, saya tidak pernah menunggu mendapatkan proyek. Sebaliknya saya justru mulai merasa sebagai penerjemah ketika sudah mulai banyak mengerjakan proyek terjemahan. Kalau dirangkum kurang lebih jalurnya seperti ini:

  • Tahun ke-1: Mengambil pendidikan bahasa formal
  • Tahun ke-2: Mulai menerima order proyek terjemahan
  • Tahun ke-5: Bekerja di agensi terjemahan
  • Tahun ke-5: Mulai menerima order proyek luar negeri
  • Tahun ke-6: Menjadi penerjemah lepas full-time

Menurut saya yang saya lalui agak acak. Kalau saya bisa memilih dan menata jalur karier saya sendiri dari awal, idealnya menurut saya urutannya seperti ini seharusnya:

  • Tahun ke-1: Mengambil pendidikan bahasa formal
  • Tahun ke-2: Mulai menerima order proyek terjemahan
  • Tahun ke-3: Bekerja/magang di agensi terjemahan
  • Tahun ke-4: Mulai menerima order proyek luar negeri
  • Tahun ke-5: Menjadi penerjemah lepas full-time

Dengan jalur seperti ini, begitu lulus kuliah, kita sudah punya cukup banyak klien dan pengalaman untuk bekerja sebagai penerjemah lepas full-time.

6 responses so far

Pelokalan dan Penerjemah

Nov 20 2014 Published by under Uncategorized

Waktu Membaca: 1 menit

Minggu kemarin saya berkesempatan hadir di acara Temu Kompak Himpunan Penerjemah Indonesia di Jakarta. Saya dan mas Ivan Lanin kebagian mengisi sesi diskusi tentang pelokalan.

Saya menggunakan slide di bawah untuk mempresentasikan apa yang saya tahu tentang pelokalan.

Pelokalan dan penerjemah dari Ade Indarta
Penafian: Slide di atas hanya alat bantu saat memberikan presentasi. Konten seutuhnya merupakan gabungan antara presentasi dan slide.

No responses yet

Program Sertifikat Pelokalan dari University of Washington

Sep 16 2014 Published by under Uncategorized

Waktu Membaca: 2 menit

JProfessional and Continuing Education University of Washingtonadi ceritanya saya baru saja mendaftar ke program online baru. Program kali ini dari University of Washington: Certificate in Localization: Customizing Software for the World. Perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini memberikan tunjangan pendidikan bagi karyawannya yang jumlahnya cukup besar. Tunjangan ini diberikan per tahun dan hangus apabila tidak dipakai. Jadi sayang kalau tidak saya gunakan.

Saya memilih program ini pertama karena online. Tidak perlu pindah negara atau kota. Saya bisa mengikuti kelas dari rumah. Alasan kedua adalah karena saya memang mencari pendidikan mengenai pelokalan yang lingkupnya lebih luas dari penerjemahan saja. Program sertifikat ini menawarkan tiga kelas yang harus diselesaikan. Menurut saya kesemua kelas ini cukup lengkap melingkupi proses pelokalan secara keseluruhan:

  1. Introduction to Localization
  2. Localization Engineering
  3. Localization Project Management

Untuk menyelesaikan program ini dan mendapatkan sertifikat, saya harus mengikuti ketiga kelas tersebut dalam kurun waktu 9 bulan. Tiap kelas berlangsung kurang lebih selama 3 bulan dengan 4 kali pertemuan selama 3 jam dalam satu bulannya.

Program dibuka setiap bulan September. Pendaftaran bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya mendaftar sejak bulan Juli yang lalu. Pendaftaran juga dilakukan secara online. Saya hanya perlu mengisi formulir online yang disediakan. Sebelumnya saya telah menyiapkan beberapa dokumen terlebih dulu:

  • Surat lamaran maksimal 250 kata yang memuat pengalaman kerja yang berhubungan dengan program ini, ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki, serta alasan mendaftar di kelas ini.
  • Sebuah ringkasan riwayat hidup yang memuat riwayat pendidikan dan pengalaman  kerja

Setelah mengisi formulir online dengan data diri dan menyalin kedua dokumen tersebut di atas ke ruang yang disediakan, saya juga harus melakukan pembayaran biaya pendaftaran sebesar 50 USD.

 

Pengumuman penerimaan lamaran saya cukup cepat. Hanya dalam beberapa hari saya sudah menerima pemberitahuan bahwa saya bisa mengikuti program ini. Selanjutnya saya diminta untuk membayar biaya kelas yang pertama (Introduction to Localization) sebesar USD999. Saya kemudian menerima identitas siswa University of Washington yang digunakan untuk mengakses modul pendidikan online-nya.

Kelas program ini diadakan setiap hari Selasa pukul 18:00 – 21:00 waktu setempat. Pertemuan yang pertama akan diadakan tanggal 30 September nanti. Saya cukup beruntung karena saya berada di Singapura dan University of Washington ini ada di Seattle. Perbedaan waktunya pas. Sekitar 14 jam. Jadi saya tidak perlu bangun tengah malam atau dini hari untuk mengikuti kelasnya. Kelas akan dimulai pukul 09:00 – 12:00 waktu Singapura.

 

No responses yet

« Prev - Next »