Archive for 2014

Pelokalan dan Penerjemah

Nov 20 2014 Published by under Uncategorized

Minggu kemarin saya berkesempatan hadir di acara Temu Kompak Himpunan Penerjemah Indonesia di Jakarta. Saya dan mas Ivan Lanin kebagian mengisi sesi diskusi tentang pelokalan.

Saya menggunakan slide di bawah untuk mempresentasikan apa yang saya tahu tentang pelokalan.

Pelokalan dan penerjemah dari Ade Indarta
Penafian: Slide di atas hanya alat bantu saat memberikan presentasi. Konten seutuhnya merupakan gabungan antara presentasi dan slide.

No responses yet

Program Sertifikat Pelokalan dari University of Washington

Sep 16 2014 Published by under Uncategorized

JProfessional and Continuing Education University of Washingtonadi ceritanya saya baru saja mendaftar ke program online baru. Program kali ini dari University of Washington: Certificate in Localization: Customizing Software for the World. Perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini memberikan tunjangan pendidikan bagi karyawannya yang jumlahnya cukup besar. Tunjangan ini diberikan per tahun dan hangus apabila tidak dipakai. Jadi sayang kalau tidak saya gunakan.

Saya memilih program ini pertama karena online. Tidak perlu pindah negara atau kota. Saya bisa mengikuti kelas dari rumah. Alasan kedua adalah karena saya memang mencari pendidikan mengenai pelokalan yang lingkupnya lebih luas dari penerjemahan saja. Program sertifikat ini menawarkan tiga kelas yang harus diselesaikan. Menurut saya kesemua kelas ini cukup lengkap melingkupi proses pelokalan secara keseluruhan:

  1. Introduction to Localization
  2. Localization Engineering
  3. Localization Project Management

Untuk menyelesaikan program ini dan mendapatkan sertifikat, saya harus mengikuti ketiga kelas tersebut dalam kurun waktu 9 bulan. Tiap kelas berlangsung kurang lebih selama 3 bulan dengan 4 kali pertemuan selama 3 jam dalam satu bulannya.

Program dibuka setiap bulan September. Pendaftaran bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya mendaftar sejak bulan Juli yang lalu. Pendaftaran juga dilakukan secara online. Saya hanya perlu mengisi formulir online yang disediakan. Sebelumnya saya telah menyiapkan beberapa dokumen terlebih dulu:

  • Surat lamaran maksimal 250 kata yang memuat pengalaman kerja yang berhubungan dengan program ini, ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki, serta alasan mendaftar di kelas ini.
  • Sebuah ringkasan riwayat hidup yang memuat riwayat pendidikan dan pengalaman  kerja

Setelah mengisi formulir online dengan data diri dan menyalin kedua dokumen tersebut di atas ke ruang yang disediakan, saya juga harus melakukan pembayaran biaya pendaftaran sebesar 50 USD.

 

Pengumuman penerimaan lamaran saya cukup cepat. Hanya dalam beberapa hari saya sudah menerima pemberitahuan bahwa saya bisa mengikuti program ini. Selanjutnya saya diminta untuk membayar biaya kelas yang pertama (Introduction to Localization) sebesar USD999. Saya kemudian menerima identitas siswa University of Washington yang digunakan untuk mengakses modul pendidikan online-nya.

Kelas program ini diadakan setiap hari Selasa pukul 18:00 – 21:00 waktu setempat. Pertemuan yang pertama akan diadakan tanggal 30 September nanti. Saya cukup beruntung karena saya berada di Singapura dan University of Washington ini ada di Seattle. Perbedaan waktunya pas. Sekitar 14 jam. Jadi saya tidak perlu bangun tengah malam atau dini hari untuk mengikuti kelasnya. Kelas akan dimulai pukul 09:00 – 12:00 waktu Singapura.

 

No responses yet

Agar Tidak Kehilangan Bahasa Indonesia

Sep 12 2014 Published by under Uncategorized

Salah satu ketakutan saya sebagai penerjemah yang tidak tinggal di Indonesia adalah kehilangan kemampuan bahasa Indonesia saya. Meskipun sebenarnya saya tidak bermukim sejauh itu dari Indonesia. Dari sini, Singapura, saya hanya perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke Batam. Saya juga selalu pulang ke rumah saya di Batam setiap akhir pekan. Jadi kalau dihitung mungkin saya menghabiskan sekitar 70 persen waktu saya di luar Indonesia.

Tapi sehari-hari di kantor saya selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, baik ketika menulis/membaca email, rapat, mau pun ngobrol dengan rekan kerja. Ini berarti dalam lingkungan pekerjaan, saya lebih banyak terpapar oleh bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia. Saya khawatir lama kelamaan bahasa Indonesia saya akan semakin terkikis atau terpengaruh dengan bahasa Inggris (Kalau tidak salah gejala ini disebut Language Attrition).

Untuk orang yang tidak bekerja di bidang penerjemahan, mungkin ini tidak akan menjadi masalah. Tetapi untuk seorang penerjemah, saya curiga gejala ini perlahan-lahan akan tampak dalam hasil terjemahan saya. Mungkin saya merasa menulis dalam bahasa Indonesia tapi diam-diam struktur bahasa Inggris ikut masuk ke dalam kalimat-kalimat saya. Atau bisa juga saya semakin lama akan semakin nyaman menggunakan istilah asing mentah-mentah tanpa merasa perlu mencari padanannya di bahasa Indonesia yang sudah ada.

Solusi yang terpikirkan saat ini adalah saya selalu berusaha untuk memaparkan diri ke Bahasa Indonesia sebanyak dan sesering mungkin. Kalau di kantor saya lebih banyak mengkonsumsi dan memproduksi teks atau ujaran dalam bahasa Inggris, di luar jam kerja, termasuk saat akhir pekan di Batam, saya berusaha menenggelamkan diri kembali ke lingkungan bahasa Indonesia. Karena keluarga saya masih di Indonesia, pulang kerja misalnya saya banyak bercakap-cakap dengan mereka dalam Bahasa Indonesia informal melalui telepon.

Berkat Internet, saya juga masih bisa mendengarkan radio di Yogjakarta yang selalu saya dengarkan sejak zaman kuliah dulu. Dari siaran radio seperti ini biasanya kita bisa mengikuti kata-kata slang yang sedang tren. Kalau sedang ada waktu, saya juga sering menonton acara-acara televisi Indonesia, baik yang langsung melalui streaming atau rekaman yang ada di Youtube. Untuk bahasa yang lebih baku, saya bisa menonton siaran berita atau pun gelar wicara. Di Batam, saya juga berlangganan beberapa harian lokal berbahasa Indonesia untuk saya lembur di akhir pekan.

Saya juga rutin berbelanja buku di Gramedia Batam setiap bulan untuk bekal sehari-hari saat menuju kantor. Buku-buku yang saya incar biasanya buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan buku terjemahan. Saya suka khawatir kalau membaca buku terjemahan saya justru akan semakin tidak bisa membedakan mana yang bahasa Indonesia asli dan mana yang bahasa Indonesia yang sudah terpengaruh bahasa Inggris. Lebih nyaman rasanya sebagai upaya melakukan katarsis dari bahasa Inggris untuk membaca kumpulan cerpen, novel, atau juga puisi yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Untuk asupan yang lebih spesifik berbau bahasa dan penerjemahan, saya juga masih mengikuti berita dan diskusi yang ada di milis Bahtera, grup Facebook HPI, dan blog-blog penerjemah, seperti blog Mbak Dina Begum atau blog Bahtera. Menulis di blog ini sebenarnya juga salah satu upaya saya agar tidak kehilangan bahasa Indonesia. Nah, jadi pertanyaannya sekarang, menurut Anda apakah tulisan saya ini masih berasa bahasa Indonesia ataukah sudah ada tanda-tanda tercemar oleh bahasa Inggris di sana-sini?

6 responses so far

Next »