Jangan Berhenti Pada Tataran Kata

Penerjemah pemula sering mentok saat menerjemahkan jika menemui kata atau istilah yang sulit dicari padanannya. Padahal dalam menerjemahkan objek kita seharusnya adalah teks, bukan kata. Kalau fokus kita saat menerjemahkan adalah menyampaikan pesan teks bahasa sumber ke bahasa sasaran, niscaya masalah yang seperti ini akan jarang kita temui.

Jika memang belum terbiasa, bisa dilatih dengan melihat dari tataran yang lebih tinggi saat menemui masalah. Misal, saat menerjemahkan kita kesulitan menemukan padanan kata tertentu, coba berhenti sejenak. Pindahkan fokus dari kata yang bermasalah ke tataran yang lebih tinggi, yaitu kalimat secara utuh. Apakah kata sumber itu memang harus dipadankan dengan satu kata dalam bahasa sasaran? Ataukah bisa kita lesapkan ke dalam kalimat itu melalui penggunaan kata lain? Atau bahkan bisa kita hilangkan sama sekali.

Catatan: hal ini dipaparkan panjang lebar dalam buku Mona Baker “In Other words”.

4 thoughts on “Jangan Berhenti Pada Tataran Kata

  1. Benar, mas Ade. Saya sering bertemu problem seperti ini ketika mengedit. Banyak kalimat yang nggak bunyi karena diterjemahkan secara harfiah atau kata per kata, padahal kalimat itu mestinya bisa terasa enak atau nggak, nyambung atau nggak. Terus terang selama ini saya lebih banyak mengandalkan feeling. Tapi pas baca artikel di atas, rupanya ada semacam proses berlatihnya… Makasih artikelnya, mas :)

  2. Bener banget, Pak. Saya masih pemula dan selama ini mengerjakan terjemahan jurnal saja. Waktu pertama kali menghadapi proyek terjemahan buku, baru terasa betul bedanya. Nggak jarang baru mulai baca, tiba-tiiba sudah diberondong lebih dari satu istilah yang saya kurang paham maknanya. Walhasil otak jadi jetlag. Saya jadi terjebak pada level kata dan bukan pada keseluruhan teks.

    Misalnya saja, pada waktu baru memulai terjemahan buku tsb, saya cuma baca per kalimat, lalu diterjemahkan. Namun saat menjumpai beberapa kata sulit, lambat laun saya belajar membaca per paragraf, baru diterjemahkan. Namun baru belakangan saya sadar bahwa saya kehilangan banyak konteks. Saya sempat beberapa kali terpaksa menelaah kembali teks yang sudah saya terjemahkan karena tersadar bahwa saya menerjemahkan suatu istilah secara kaku.

    Baru setelah beberapa kali terjebak di lubang yang sama, saya akhirnya mencoba mengerjakan per bagian teks berdasarkan gagasan utamanya. Saya cerna dulu seluruh teks yang menyampaikan satu gagasan sama, baru diterjemahkan.

  3. Terima kasih sharing-nya Bu Annisa. Memang benar. Seringnya kita bakal mentok kalau fokusnya terlalu kecil di tataran kata. Kalau kita naik sedikit ke kalimat, paragraf, atau yang paling ideal teks secara keseluruhan, menerjemahkan jadi lebih mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *