Mengoordinasi Proyek Terjemahan (Bagian Kedua)

(Ini adalah bagian kedua dari tulisan “Mengoordinasi Proyek Terjemahan”. Bagian pertama tulisan ini bisa dibaca di sini)

Yang harus dilakukan

1. Mengadakan Rapat Pembukaan
Meskipun sebelumnya komunikasi tentang proyek dengan anggota tim sudah dimulai melalui email, sebaiknya sebelum proyek dimulai kita mengadakan rapat dengan seluruh tim. Rapat ini untuk memastikan bahwa semua informasi yang telah disampaikan sebelumnya melalui email, misalnya, dipahami oleh semua anggota tim dengan cara yang sama.

2. Mengevaluasi Berkas Sumber
Berkas sumber diserahkan ke salah satu penerjemah untuk dievaluasi. Tujuan dari evaluasi adalah untuk memastikan tidak ada kesalahan pada teks sumber yang akan diterjemahkan, sebelum proyek mulai dikerjakan. Semua pertanyaan yang ada kemudian bisa dikumpulkan dan dikirimkan ke klien untuk dikonfirmasi. Hasil dari evaluasi ini nantinya bisa disertakan ke dalam paket kerja. Dengan demikian, proyek bisa dimulai dengan teks sumber yang bersih dari kesalahan.

3. Menerjemahkan
Dilakukan oleh satu orang penerjemah atau lebih. Pastikan penerjemah menguasai bidang yang dikerjakan. Beban kerja yang diberikan ke tiap-tiap penerjemah hendaknya tidak melebihi kapasitas penerjemah (Data mengenai produktivitas bisa didapat dari basis data yang telah kita susun sebelumnya). Semakin sedikit penerjemah yang dilibatkan, semakin mudah bagi kita mengendalikan konsistensi dan kualitas terjemahan.

4. Menyunting
Dilakukan oleh penerjemah lain yang berpengalaman dalam penyuntingan. Penyuntingan sebaiknya dilakukan oleh satu orang saja agar hasil akhir terjemahan mempunyai satu gaya yang sama. Perlu juga ada kesepakatan antara penerjemah, penyunting, dan koordinator, tentang standar kualitas yang diharapkan dan metode penyuntingan yang akan digunakan. Agar tidak sampai terjadi perdebatan yang tidak perlu tentang perbedaan gaya, sebaiknya ditetapkan terlebih dahulu siapa yang akan menjadi penentu jika terjadi perselisihan antara penerjemah dan penyunting. Penyuntingan harus dilakukan untuk memastikan hasil terjemahan penerjemah tidak mengandung kesalahan, bukan untuk mencari-cari kesalahan penerjemah.

5. Mengelola Pertanyaan
Selama proses penerjemahan dan penyuntingan, agar tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama dari beberapa anggota tim, koordinator penerjemah harus mengelola pertanyaan yang masuk dari penerjemah atau penyunting. Pengelolaan dapat dilakukan dengan mengumpulkan pertanyaan yang masuk melalui formulir pertanyaan, merapikannya ke dalam satu berkas, kemudian menjawabnya, baik sendiri atau dengan menanyakannya ke klien. Berkas dengan kumpulan pertanyaan dan jawaban ini kemudian secara berkala dikirimkan lagi ke semua anggota tim. Dengan demikian, semua pihak dapat memiliki informasi yang sama.

6. Membaca Pruf
Di tahap ini penerjemah kembali memeriksa hasil terjemahan, namun kali ini dalam format akhir. Penerjemah tidak lagi berfokus untuk mencari kesalahan terjemahan tapi lebih berfokus ke kesalahan bahasa, kesalahan kontekstual, kesalahan format, kalimat yang hilang atau rusak, bagian yang belum diterjemahkan, dan sebagainya. Karena proses ini berjarak cukup lama dari saat penerjemah terakhir memegang teks, diharapkan saat melakukan tugas ini, penerjemah sudah dapat memisahkan diri dari teks yang bersangkutan dan bisa melihat terjemahan secara objektif. Kadang kala, pembacaan pruf ini juga bisa dilakukan oleh orang ketiga yang tidak terlibat dalam proses penerjemahan dan penyuntingan untuk hasil yang lebih maksimal.

7. Mengendalikan Mutu dan Layanan
Untuk mengendalikan mutu, koordinator bisa membuat daftar periksa sederhana untuk disertakan dalam paket kerja agar di setiap tahap penerjemah bisa memastikan apakah dia sudah melakukan semua tugasnya. Hal-hal yang bisa dicantumkan dalam daftar periksa ini misalnya apakah penerjemah sudah mengecek ejaan, apakah semua kalimat/segmen sudah diterjemahkan, apakah istilah yang digunakan sudah konsisten, dan sebagainya. Setiap penerjemah yang sudah menyelesaikan tugasnya harus membaca dan melengkapi daftar ini. Selain itu untuk menghindari terlewatkannya tenggat dari klien, kita bisa meminta penerjemah mengirimkan hasil terjemahan dalam paket-paket kecil setiap harinya. Dengan demikian, jika ada masalah kualitas atau masalah lainnya kita dapat segera mengetahui dan bisa segera mencari solusinya. Kita tidak perlu menunggu hari terakhir untuk menyadari misalnya bahwa ternyata penerjemah tidak menguasai materi yang diterjemahkan atau lupa mengerjakan tugasnya.

Setelah proyek selesai koordinator dan tim penerjemah bisa duduk bersama untuk mengevaluasi proses kerja proyek mereka. Semua masalah yang ditemukan dalam proyek ini bisa dikumpulkan dan dicatat beserta pemecahannya. Semua itu kemudian bisa digunakan sebagai panduan dalam mengerjakan proyek-proyek terjemahan berikutnya. Dengan demikian proses kerja tim diharapkan akan semakin efektif dan efisien seiring waktu.

One thought on “Mengoordinasi Proyek Terjemahan (Bagian Kedua)

  1. Pingback: Mengoordinasi Proyek Terjemahan (Bagian Pertama) | Ade Indarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *