Archive for April, 2011

Menyembunyikan Teks Saat Menerjemahkan dengan Trados

Apr 28 2011 Published by under Uncategorized

Pernah menerima file dari klien seperti cuplikan layar di bawah ini?

Klien meminta kolom kedua untuk diisi dengan teks terjemahan dan meminta secara khusus agar file diterjemahkan dengan Trados.

Salah satu cara yang cukup mudah dilakukan untuk mengerjakan tugas seperti ini adalah dengan memanfaatkan style tw4winExternal Trados. Dengan style khusus ini kita bisa menandai teks tertentu yang tidak untuk diterjemahkan. Teks akan menjadi “tersembunyi” dan Trados akan melewatkan teks tersebut. Berikut langkah cara melakukannya:

1. Pada menu Microsoft Word, klik Tools > Macro.

2. Cari macro dengan nama sAddTagStyles dan klik Run.

Style Trados yang diperlukan akan otomatis disalin oleh Trados ke dokumen Anda.

3. Untuk memastikan style sudah ada, klik Tools > Templates and Add ins…; Kemudian klik tombol Organizer di pojok kiri bawah.

4. Pada tab Styles, pastikan Anda sudah melihat tw4winExternal di antara style yang ada dalam dokumen.

5. Setelah kembali ke dokumen, salin teks sumber yang untuk diterjemahkan ke kolom terjemahan.

6. Sorot teks yang tidak akan diterjemahkan;  klik Format > Style and Formatting… dan ganti style menjadi tw4winExternal.

(Anda juga bisa menggunakan fitur Find and replace di Microsoft Word untuk menemukan dan mengganti style pada teks yang dikehendaki)

7. Sekarang Anda bisa menerjemahkan dengan Trados seperti biasa. Teks yang memiliki style tw4winExternal akan berubah menjadi abu-abu dan tidak akan dibuka oleh Trados.

Catatan: saya menggunakan Trados versi 7 dan Office 2003.

3 responses so far

Mengoordinasi Proyek Terjemahan (Bagian Kedua)

Apr 18 2011 Published by under Uncategorized

(Ini adalah bagian kedua dari tulisan “Mengoordinasi Proyek Terjemahan”. Bagian pertama tulisan ini bisa dibaca di sini)

Yang harus dilakukan

1. Mengadakan Rapat Pembukaan
Meskipun sebelumnya komunikasi tentang proyek dengan anggota tim sudah dimulai melalui email, sebaiknya sebelum proyek dimulai kita mengadakan rapat dengan seluruh tim. Rapat ini untuk memastikan bahwa semua informasi yang telah disampaikan sebelumnya melalui email, misalnya, dipahami oleh semua anggota tim dengan cara yang sama.

2. Mengevaluasi Berkas Sumber
Berkas sumber diserahkan ke salah satu penerjemah untuk dievaluasi. Tujuan dari evaluasi adalah untuk memastikan tidak ada kesalahan pada teks sumber yang akan diterjemahkan, sebelum proyek mulai dikerjakan. Semua pertanyaan yang ada kemudian bisa dikumpulkan dan dikirimkan ke klien untuk dikonfirmasi. Hasil dari evaluasi ini nantinya bisa disertakan ke dalam paket kerja. Dengan demikian, proyek bisa dimulai dengan teks sumber yang bersih dari kesalahan.

3. Menerjemahkan
Dilakukan oleh satu orang penerjemah atau lebih. Pastikan penerjemah menguasai bidang yang dikerjakan. Beban kerja yang diberikan ke tiap-tiap penerjemah hendaknya tidak melebihi kapasitas penerjemah (Data mengenai produktivitas bisa didapat dari basis data yang telah kita susun sebelumnya). Semakin sedikit penerjemah yang dilibatkan, semakin mudah bagi kita mengendalikan konsistensi dan kualitas terjemahan.

4. Menyunting
Dilakukan oleh penerjemah lain yang berpengalaman dalam penyuntingan. Penyuntingan sebaiknya dilakukan oleh satu orang saja agar hasil akhir terjemahan mempunyai satu gaya yang sama. Perlu juga ada kesepakatan antara penerjemah, penyunting, dan koordinator, tentang standar kualitas yang diharapkan dan metode penyuntingan yang akan digunakan. Agar tidak sampai terjadi perdebatan yang tidak perlu tentang perbedaan gaya, sebaiknya ditetapkan terlebih dahulu siapa yang akan menjadi penentu jika terjadi perselisihan antara penerjemah dan penyunting. Penyuntingan harus dilakukan untuk memastikan hasil terjemahan penerjemah tidak mengandung kesalahan, bukan untuk mencari-cari kesalahan penerjemah.

5. Mengelola Pertanyaan
Selama proses penerjemahan dan penyuntingan, agar tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama dari beberapa anggota tim, koordinator penerjemah harus mengelola pertanyaan yang masuk dari penerjemah atau penyunting. Pengelolaan dapat dilakukan dengan mengumpulkan pertanyaan yang masuk melalui formulir pertanyaan, merapikannya ke dalam satu berkas, kemudian menjawabnya, baik sendiri atau dengan menanyakannya ke klien. Berkas dengan kumpulan pertanyaan dan jawaban ini kemudian secara berkala dikirimkan lagi ke semua anggota tim. Dengan demikian, semua pihak dapat memiliki informasi yang sama.

6. Membaca Pruf
Di tahap ini penerjemah kembali memeriksa hasil terjemahan, namun kali ini dalam format akhir. Penerjemah tidak lagi berfokus untuk mencari kesalahan terjemahan tapi lebih berfokus ke kesalahan bahasa, kesalahan kontekstual, kesalahan format, kalimat yang hilang atau rusak, bagian yang belum diterjemahkan, dan sebagainya. Karena proses ini berjarak cukup lama dari saat penerjemah terakhir memegang teks, diharapkan saat melakukan tugas ini, penerjemah sudah dapat memisahkan diri dari teks yang bersangkutan dan bisa melihat terjemahan secara objektif. Kadang kala, pembacaan pruf ini juga bisa dilakukan oleh orang ketiga yang tidak terlibat dalam proses penerjemahan dan penyuntingan untuk hasil yang lebih maksimal.

7. Mengendalikan Mutu dan Layanan
Untuk mengendalikan mutu, koordinator bisa membuat daftar periksa sederhana untuk disertakan dalam paket kerja agar di setiap tahap penerjemah bisa memastikan apakah dia sudah melakukan semua tugasnya. Hal-hal yang bisa dicantumkan dalam daftar periksa ini misalnya apakah penerjemah sudah mengecek ejaan, apakah semua kalimat/segmen sudah diterjemahkan, apakah istilah yang digunakan sudah konsisten, dan sebagainya. Setiap penerjemah yang sudah menyelesaikan tugasnya harus membaca dan melengkapi daftar ini. Selain itu untuk menghindari terlewatkannya tenggat dari klien, kita bisa meminta penerjemah mengirimkan hasil terjemahan dalam paket-paket kecil setiap harinya. Dengan demikian, jika ada masalah kualitas atau masalah lainnya kita dapat segera mengetahui dan bisa segera mencari solusinya. Kita tidak perlu menunggu hari terakhir untuk menyadari misalnya bahwa ternyata penerjemah tidak menguasai materi yang diterjemahkan atau lupa mengerjakan tugasnya.

Setelah proyek selesai koordinator dan tim penerjemah bisa duduk bersama untuk mengevaluasi proses kerja proyek mereka. Semua masalah yang ditemukan dalam proyek ini bisa dikumpulkan dan dicatat beserta pemecahannya. Semua itu kemudian bisa digunakan sebagai panduan dalam mengerjakan proyek-proyek terjemahan berikutnya. Dengan demikian proses kerja tim diharapkan akan semakin efektif dan efisien seiring waktu.

One response so far

Mengoordinasi Proyek Terjemahan (Bagian Pertama)

Apr 15 2011 Published by under Uncategorized

Semakin berpengalaman penerjemah, semakin baik kualitas terjemahannya, akan semakin banyak pula proyek yang masuk. Pada tahap ini penerjemah akan dihadapkan pada dua pilihan demi menjaga kualitas terjemahannya: pilihan pertama menaikkan tarif sehingga dapat menyaring proyek yang masuk, menghasilkan terjemahan yang berkualitas sama, dan tetap mendapat penghasilan yang senilai (atau bahkan lebih); pilihan yang lain meminta bantuan penerjemah lain untuk mengerjakan sebuah proyek bersama-sama. Dalam hal yang kedua ini, sifat kerja penerjemahan akan menjadi berbeda. Kerja individu penerjemah akan menjadi kerja tim. Akan ada banyak hal yang harus diperhatikan, disiapkan, dan dilakukan oleh penerjemah yang mengoordinasi tim penerjemah agar proyek dapat diselesaikan sesuai harapan:

Yang harus diperhatikan

Masalah Legal
Penerjemah yang akan melibatkan penerjemah lain dalam proyeknya harus memastikan bahwa kontrak dengan klien tidak memuat larangan untuk mengalihdayakan proyek tersebut. Tidak semua klien akan membiarkan penerjemahnya begitu saja membagikan pekerjaan kepada orang lain. Yang menjadi kekhawatiran klien terhadap praktik ini biasanya adalah masalah kualitas dan kerahasiaan. Biasanya ini akan diatur secara gamblang di dalam kontrak.

Masalah Etika
Meskipun kontrak dengan klien tidak memuat secara eksplisit bahwa kita tidak diperbolehkan untuk mengalihdayakan pekerjaan, kita harus memastikan bahwa kita tidak melanggar etika profesi. Jika mengacu pada kode etik HPI misalnya, penerjemah bertanggung jawab untuk menjaga standar kinerja yang tinggi dan memberikan hasil yang terbaik. Apabila dengan mengalihdayakan kita tidak yakin akan bisa memenuhi standar dan hasil yang diharapkan oleh klien, maka tidak seharusnya kita melanjutkan niat ini.

Yang harus disiapkan

Sumber Daya
Sebelum mulai, kita harus mempunyai daftar penerjemah yang bisa bekerja dengan kita. Dengan mengumpulkan penerjemah dalam sebuah basis data, kita tidak perlu lagi disibukkan mencari sumber daya baru setiap kali ada proyek. Basis data hendaknya mencakup informasi penting seperti spesialisasi, produktivitas, kualitas, dan jadwal kerja penerjemah. Pemilihan penerjemah menentukan keberhasilan proyek-proyek yang akan datang. Penerjemah yang berkualitas akan memudahkan kita mengontrol hasil terjemahan dan penyelesaian proyek. Kiat memilih penerjemah bisa dilihat di sini.

Proses
Bekerja dengan penerjemah lain tentu akan berbeda dari menerjemahkan sendiri. Kita tidak bisa sekadar mengikuti suasana hati sendiri. Semua pihak yang terlibat harus mengetahui dan menyepakati proses yang akan dilakukan bersama. Yang bisa diatur terlebih dahulu misalnya kapan proyek akan dimulai, siapa yang akan menerjemahkan, kapan harus menyerahkan terjemahan, siapa yang akan menyunting, siapa yang akan menjawab pertanyaan, siapa yang akan mengambil keputusan jika ada perbedaan pendapat, siapa yang akan berkomunikasi dengan klien, apa yang harus dilakukan jika salah satu penerjemah berhalangan, dan sebagainya.

Paket Kerja
Untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan kualitas terjemahan, setiap akan memulai proyek, hendaknya koordinator menyiapkan paket kerja yang akan dibagikan kepada semua pihak yang terlibat. Yang bisa disertakan dalam paket ini antara lain berkas-berkas kerja seperti berkas teks sumber, memori terjemahan, berkas-berkas referensi seperti glosarium, instruksi dari klien, panduan gaya, informasi tambahan tentang konteks, formulir standar untuk mengajukan pertanyaan, dan sebagainya. Koordinator juga perlu memeriksa tiap-tiap berkas dari klien untuk memastikan tidak ada berkas yang rusak, kurang, atau lebih.

(Bersambung ke bagian kedua: Yang harus dilakukan)

5 responses so far