Archive for 2010

Menghindari Jebakan Tarif Terjemahan Murah

Jul 01 2010 Published by under Uncategorized

Banyak penerjemah yang memulai kariernya sebagai penerjemah profesional dengan tarif yang ‘bersaing’ [istilah sopan untuk mengatakan tarif yang terlalu rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku]. Tindakan ini biasanya dipilih sebagai strategi untuk menembus pasar terjemahan yang sudah ada karena penerjemah baru merasa tidak memiliki kelebihan lain yang dapat dijadikan sebagai daya saing.

Masalahnya kemudian, seiring waktu, dengan tarif yang terlalu murah, sang penerjemah biasanya akan kewalahan dengan banyaknya pekerjaan yang diterima. Akibatnya, penerjemah terpaksa harus meningkatkan kecepatan penerjemahannya untuk dapat memenuhi permintaan kliennya. Dalam kondisi seperti ini, penerjemah menjadi terjebak: penerjemah tidak kuasa menolak pekerjaan yang banyak masuk karena pertimbangan finansial; tapi dengan menerima pekerjaan tersebut, penerjemah tidak dapat berkomitmen untuk menghasilkan terjemahan bermutu. Pekerjaan yang tergesa-gesa selalu berisiko menghasilkan terjemahan dengan mutu rendah.

Salah satu solusinya sebenarnya cukup jelas: penerjemah harus menaikkan tarif terjemahannya agar tetap bisa memperoleh pendapatan yang sama dengan beban kerja yang lebih ringan. Namun, tentunya cara ini tidak dapat mentah-mentah diterapkan begitu saja. Jika tiba-tiba saja kita menaikkan tarif terjemahan kita untuk semua klien, bukan tidak mungkin kita akan langsung kehilangan sebagian besar klien langganan kita. Bisa dibayangkan jika ini dialami pada seseorang yang pendapatannya sepenuhnya berasal dari hasil kerja terjemahan (penerjemah full-time). Penerjemah bisa kehilangan penghidupannya dengan seketika.

Untuk menghindari hal tersebut, kenaikan tarif bisa dilakukan perlahan-lahan secara selektif. Penerjemah juga harus terus mencari klien baru yang bersedia membayar tarif yang sesuai dengan kualitas terbaik yang kita tawarkan. Jadi, misalnya, jika saat ini kita sudah memiliki cukup banyak klien langganan dengan tarif yang sama, ketika kita bisa menemukan satu klien baru dengan tarif yang lebih tinggi dan berpotensi menjadi langganan, kita bisa mengajukan kenaikan tarif ke satu klien yang lama. Jika klien lama itu menolak tarif baru yang kita ajukan dan berhenti menggunakan jasa kita, pendapatan dari klien baru itu bisa menggantikannya. Sebaliknya, jika klien itu menerima tarif baru tersebut, kita bisa menerapkan kenaikan tarif ini ke klien lama lainnya, dan seterusnya satu per satu. Dengan cara ini, kita bisa terus bekerja menghasilkan mutu terjemahan yang kita harapkan dan tetap mendapatkan penghasilan yang kita inginkan.

7 responses so far

Terjemahan Mesin Bukan Terjemahan Manusia

Jun 02 2010 Published by under Uncategorized

Seiring berkembangnya teknologi, penerjemahan pun tidak bisa terhindar dari pengaruhnya. Penerjemahan saat ini hampir selalu melibatkan penggunaan teknologi. Secara umum, berdasarkan subjek dan teknologinya, kita bisa menyebut dua jenis terjemahan: terjemahan manusia dan terjemahan mesin. Pada terjemahan manusia, proses penerjemahan dilakukan sepenuhnya oleh manusia atau dengan bantuan teknologi komputer. Jika menggunakan bantuan teknologi komputer, penerjemahan ini dikenal juga dengan nama penerjemahan berbantuan komputer (Computer Assisted Translation – CAT). Sedang pada terjemahan mesin, proses penerjemahan biasanya dilakukan oleh mesin dengan bantuan manusia. Penerjemahan ini disebut juga dengan penerjemahan berbantuan manusia (Human Assisted Translation).

Proses penerjemahan berbantuan komputer (CAT) kurang lebih sama dengan proses penerjemahan manual. Penerjemah harus membaca, memahami teks bahasa sumber, menemukan padanannya, dan kemudian menuliskannya ke dalam teks bahasa target. Proses penerjemahan sepenuhnya dilakukan oleh penerjemah (manusia). Alat bantu penerjemahan (CAT tool) hanya digunakan oleh penerjemah untuk memudahkan proses penerjemahan. Beberapa jenis program komputer yang umum dijadikan alat bantu antara lain perangkat Memori Terjemahan (Translation Memory – TM), program kamus elektronik, program manajemen terminologi (Terminology Management), program pengolah kata (word processor), program pemeriksa ejaan dan tata bahasa, dan sebagainya.

Sebaliknya, pada terjemahan mesin (Machine Translation -MT), proses penerjemahan semuanya dilakukan oleh mesin (komputer). Salah satu contoh mesin MT yang mungkin paling populer saat ini adalah Google Translate. Ketika menerjemahkan dengan Google Translate, pengguna tidak perlu terlibat dalam proses penerjemahannya. Pengguna cukup memasukkan teks bahasa sumber yang akan diterjemahkan, menjalankan mesin Google Translate, dan akan langsung mendapatkan hasil terjemahan dalam bahasa target. Pengguna hanya bertugas membantu menjalankan proses penerjemahan yang otomatis dilakukan oleh Google Translate.

Proses penerjemahan yang terjadi di dalam mesin tidak mengikuti proses penerjemahan manual pada umumnya. Mengingat proses ini sepenuhnya dilakukan oleh mesin, unsur bahasa pun diubah menjadi unsur yang dapat dikomputasikan oleh mesin. Pada Google Translate, yang merupakan MT berbasis statistik [Jenis MT lainnya adalah MT berbasis aturan tata bahasa, MT berbasis pengetahuan (KBTS), dan sebagainya], proses penerjemahan tidak banyak melibatkan pertimbangan linguistik. Google Translate hanya memindai sebuah kumpulan teks yang besar, yang berisi teks dalam bahasa sumber dan teks bahasa target yang sepadan, untuk kemudian dianalisis berdasarkan rumus-rumus statistik. Dari hasil analisis itu terciptalah data yang dapat digunakan sebagai basis untuk menerjemahkan.

Contohnya, jika dalam sebuah teks yang sepadan mesin Google Translate menemukan bahwa kata “book” muncul paling sering dalam teks bahasa Inggris, sementara dalam teks bahasa Indonesia kata yang paling sering muncul adalah “buku”, maka Google Translate akan menganggap “book” sebagai terjemahan dari “buku” [tentu saja dalam proses sesungguhnya runtutan prosesnya tidak sesederhana ini]. Kualitas terjemahan pun bergantung pada keakuratan rumus statistika yang digunakan dan kualitas teks sepadan yang dianalisis, bukan pada keterampilan bahasa yang dimiliki oleh mesin tersebut.

Mengenai kualitas terjemahan mesin, Google Translate sendiri mengakui dalam situs  mereka bahwa mesin penerjemahan yang paling canggih sekali pun saat ini belum dapat mendekati kualitas bahasa seorang penutur asli atau belum memiliki ketrampilan seorang penerjemah profesional.  Dengan tegas, Google Translate juga mencantumkan bahwa mereka mungkin akan memerlukan waktu yang lama sebelum dapat menawarkan terjemahan dengan kualitas terjemahan manusia.

Ukuran keterlibatan manusia pada proses terjemahan mesin berbanding terbalik dengan ukuran keterlibatan mesin pada penerjemahan berbantuan komputer. Pada MT, manusia hanya pembantu, sedang pada penerjemahan berbantuan komputer, mesinlah yang membantu pekerjaan manusia. Dalam proses MT, penerjemah biasanya hanya dilibatkan dalam proses penyuntingan. Ketika penerjemahan telah dilakukan oleh MT, penerjemah diminta untuk menyunting hasil akhir terjemahan. Penyuntingan seperti ini biasanya tidak akan banyak meningkatkan kualitas hasil terjemahan MT. Dengan demikian, kualitas akhir hasil terjemahan pun sebagian besar akan ditentukan oleh kualitas terjemahan MT. Sebaliknya pada terjemahan manusia, kualitas akan ditentukan oleh kualitas penerjemah tersebut, bukan oleh alat bantu penerjemahan yang digunakan.

Perangkat MT sendiri tidak dapat dikatakan sebagai sekedar alat bantu penerjemahan karena porsi kerja perangkat MT dalam penerjemahan mesin lebih besar dari pada penerjemah yang hanya melakukan penyuntingan. Oleh karena itu, hasil terjemahan MT tidak bisa disebut sebagai hasil terjemahan manusia, melainkan hasil terjemahan mesin. Jika Anda adalah pengguna terjemahan, dengan adanya fasilitas MT yang mudah diakses seperti Google Translate, Anda harus selalu menanyakan ke penerjemah sebelum melakukan kesepakatan kerja, apakah penerjemah akan menggunakan terjemahan mesin atau tidak. Jika yang Anda harapkan dari hasil terjemahan tersebut adalah hasil terjemahan manusia, dengan kualitas terjemahan manusia, maka sebaiknya Anda tidak bekerja sama dengan penerjemah yang menggunakan MT dalam proses penerjemahannya. Sebaliknya, jika Anda adalah penerjemah, Anda harus selalu bersikap etis dengan memberi tahu kepada klien Anda apakah proses penerjemahan Anda akan melibatkan MT atau tidak. Bagi pengguna alat bantu penerjemahan, masalah etika ini ke depannya dapat dipastikan akan semakin kabur mengingat sekarang ini beberapa perangkat TM mulai memasukkan MT sebagai salah satu fiturnya.

8 responses so far

Lokalisasi dan Penerjemah

Apr 29 2010 Published by under Uncategorized

Lokalisasi (localization) akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya, tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.

Dalam The Globalization Industry Primer, LISA, Localization Industry Standards Association, mendefinisikan lokalisasi (localization) sebagai proses mengubah produk atau layanan untuk dapat memenuhi kebutuhan yang berbeda di pasar yang berbeda (Arle, 2007:11). Definisi ini menunjukkan bahwa proses lokalisasi tidak melulu tentang penerjemahan; namun juga tentang beberapa faktor lainnya yang juga sama pentingnya dengan penerjemahan. Tidak seperti penerjemahan pada umumnya yang mengubah teks dalam sebuah bahasa ke bahasa yang lain; proses lokalisasi mengubah sebuah produk atau layanan keseluruhan yang ditujukan untuk sebuah pasar menjadi produk atau layanan yang dapat terima untuk pasar yang lain. Dalam terbitan yang sama, disebutkan bahwa lokalisasi selain mencakup masalah linguistik juga mencakup masalah fisik, masalah bisnis dan budaya, dan masalah teknis.

Lokalisasi sebuah produk telepon seluler, misalnya, kurang lebih akan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut.

  1. Perusahaan produsen telepon seluler menghubungi perusahaan lokalisasi untuk melokalkan produk telepon selulernya.
  2. Perusahaan lokalisasi membentuk tim untuk menangani proyek tersebut. Tim ini akan menyiapkan sumber daya dan mengkoordinir proyek lokalisasi secara keseluruhan.
  3. Tim menerima produk telepon seluler dari perusahaan produsen telepon seluler beserta kemasan, pedoman penggunaan, atau dokumentasi lainnya, termasuk catatan mengenai penyesuaian-penyesuaian fisik yang telah atau akan dilakukan pada produk tersebut.
  4. Sumber daya teknis tim tersebut mengekstrak semua teks yang akan diterjemahkan, baik  dari perangkat telepon seluler tersebut maupun dari dokumentasi lainnya.
  5. Sumber daya penerjemahan melakukan proses penerjemahan, termasuk penyuntingan, pada teks tersebut dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan teknis tertentu, dan catatan khusus dari perusahaan klien terkait dengan aspek bisnis dan budaya pasar yang dituju.
  6. Teknisi menerima hasil terjemahan dan mengembalikan hasil terjemahan ke dalam bentuk    asalnya, baik dalam perangkat telepon seluler maupun dalam dokumentasi lainnya.
  7. Penerjemah menerima produk telepon seluler dan dokumentasinya dalam bentuk akhir untuk diujicoba dan diperiksa apakah ada kesalahan dalam penerjemahannya.
  8. Teknisi melakukan uji coba dan pemeriksaan secara fungsional untuk memastikan produk telah siap digunakan dalam bentuk akhirnya.
  9. Perusahaan klien menerima hasil lokalisasi yang berupa produk telepon seluler dalam bahasa yang diinginkan dan telah disesuaikan dengan pasar yang dituju, bebas dari kesalahan fungsional.

Contoh proses lokalisasi di atas dapat memberikan gambaran ringkas bahwa proses lokalisasi tidak hanya melibatkan penerjemahan saja. Proses lokalisasi melibatkan banyak orang dari bidang profesi yang berbeda. Sebaliknya, penerjemahan merupakan bagian dari proses lokalisasi secara keseluruhan. Penerjemahan dalam proses lokalisasi sendiri tidak banyak berbeda dengan penerjemahan pada umumnya: “mengganti bahan teks dalam bahasa sumber dengan bahan teks yang sepadan dalam bahasa sasaran” (Catford dalam Machali, 2009:25).

Terlepas dari kenyataan ini, banyak pendapat yang berusaha membedakan penerjemahan dalam proses lokalisasi dari penerjemahan pada umumnya. Penerjemahan pada proses lokalisasi bahkan sering dikatakan dapat menghasilkan terjemahan yang lebih baik. Beberapa contoh pendapat yang sering dikemukakan misalnya (1) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi bukan sekadar menerjemahkan biasa, tapi lebih ke pelokalan, menyesuaikan isi ke sistem linguistik dan budaya wilayah yang menjadi tujuan lokalisasi; (2) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi tidak menerjemahkan secara harfiah teks bahasa sumber tapi disesuaikan dengan pasar sasaran atau pengguna sasaran; serta (3) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi tidak memindahkan mentah-mentah suatu konsep dalam budaya bahasa sumber ke bahasa target; dan sebagainya.

Dari beberapa pendapat tersebut, menarik untuk dicatat bahwa semua yang disebutkan sebagai pembeda penerjemahan dalam proses lokalisasi dari penerjemahan pada umumnya sebenarnya juga sudah tercakup dalam pembahasan studi penerjemahan sejak puluhan tahun yang lalu. Contoh yang pertama misalnya dalam studi penerjemahan dikenal sebagai strategi domestikasi. Dalam strategi ini, penerjemahan dilakukan dengan gaya yang transparan, lancar, “tembus pandang” untuk meminimalisir kenampakan unsur-unsur asing dari teks sumber dalam teks sasaran (Munday, 2001:146). Strategi ini sendiri sudah digunakan semenjak zaman Romawi Kuno (Baker, 2001:241). Contoh yang kedua, yang berbicara tentang menyesuaikan terjemahan dengan pasar atau pengguna sasaran, erat sekali hubungannya dengan teori Skopos dalam studi penerjemahan. Teori ini merupakan salah satu pendekatan dalam penerjemahan yang dikembangkan di Jerman pada tahun 1970-an. Teori ini memandang bahwa proses penerjemahan, seperti kegiatan manusia lainnya, memiliki tujuan tertentu.  Tujuan inilah yang menentukan jalannya proses penerjemahan, bukan teks sumber (Baker, 2001:235). Contoh pendapat yang ketiga pada paragraf di atas dalam konteks studi penerjemahan akan mengacu pada konsep ekuivalensi dinamis. Penerjemahan ekuivalensi dinamis bertujuan untuk mencapai kealamiahan ekspresi yang utuh dan mencoba untuk mengaitkan pembaca dengan sesuatu yang relevan dengan konteks budayanya sendiri (Hatim, 2005:167).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan penerjemahan dalam proses lokalisasi lebih baik daripada penerjemahan pada umumnya tidaklah tepat karena sejatinya keduanya adalah sama. Hingga saat ini, belum ada ciri khusus penerjemahan dalam proses lokalisasi yang dapat secara nyata menjadi pembeda, baik dalam hal kualitas hasil atau pun metode, dari penerjemahan pada umumnya. Pendapat tersebut kemungkinan muncul karena kurangnya pengetahuan teoritis penerjemah terkait dengan studi penerjemahan.

Penerjemah harusnya lebih dapat memanfaatkan berbagai teori penerjemahan yang telah ada dalam bahasan studi penerjemahan saat terlibat dalam proses lokalisasi.

Dengan berbekal hasil penelitian dalam studi penerjemahan yang telah berlangsung sangat lama, penerjemah juga dapat menawarkan perspektif atau pertimbangan-pertimbangan yang biasanya tidak ditemukan dalam proses lokalisasi (Pym, 2004:5).

Namun demikian, sebaliknya, tidak dapat dimungkiri, dengan adanya faktor-faktor lain yang terlibat dalam lokalisasi (faktor teknis, fisik, bisnis, dan budaya), praktik penerjemahan dalam proses lokalisasi pasti juga terpengaruh oleh proses lokalisasi secara keseluruhan.

Keterbatasan ruang dalam penerjemahan teks perangkat lunak, misalnya, akan memaksa penerjemah untuk membatasi panjang terjemahannya dengan memilih kata-kata bahasa sasaran yang lebih pendek. Dalam memilih istilah yang akan digunakan dalam terjemahannya, penerjemah juga akan mempertimbangkan faktor bisnis. Penggunaan kata dalam bahasa sasaran yang kurang populer mungkin terpaksa akan dihindari karena akan menurunkan tingkat keterbacaan dan penerimaan pengguna terhadap produk yang dilokalkan tersebut. Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan, penerjemah tidak lagi hanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik dan penerjemahan saja.

Penutup

Lokalisasi melibatkan banyak tahapan proses. Penerjemahan sendiri adalah salah satu tahapan di dalamnya. Dalam kaitannya dengan peran penerjemah dalam lokalisasi, kerja penerjemahan dalam lokalisasi tidak banyak berbeda dengan penerjemahan secara umum. Penerjemah dapat, dan memang sudah seharusnya, memanfaatkan teori-teori penerjemahan yang telah ada saat terlibat dalam proses lokalisasi. Hanya saja, mengingat adanya faktor-faktor teknis non-penerjemahan yang terlibat,  praktik penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah dalam proses lokalisasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Pada akhirnya nanti, atau bahkan telah dan sedang terjadi, proses lokalisasi akan turut membentuk teori-teori penerjemahan baru yang dapat mengembangkan studi penerjemahan secara umum.

Daftar Pustaka

  • Baker, Mona. 2001. Routledge Encyclopedia of Translation Studies. New York: Routledge.
  • Hatim, Basil., dan Munday, Jeremy. 2005. Translation: An Advanced Resource Book. New York: Routledge.
  • Lommel, Arle. 2007. The Globalization Industry Primer.
  • Machali, Rochayah. 2009. Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional. Bandung: Kaifa.
  • Munday, Jeremy. 2001. Introducing Translation Studies: Theories and Applications. New York: Routledge.
  • Pym, Anthony. 2004Localization from the Perspective of Translation Studies: Overlaps in the Digital Divide? (Paper presented to the SCALLA conference, Kathmandu).

<Tulisan ini pertama kali dimuat pada tanggal 29 April 2010 di Blog Bahtera>

No responses yet

« Prev