Terjemahan Mesin Bukan Terjemahan Manusia

Seiring berkembangnya teknologi, penerjemahan pun tidak bisa terhindar dari pengaruhnya. Penerjemahan saat ini hampir selalu melibatkan penggunaan teknologi. Secara umum, berdasarkan subjek dan teknologinya, kita bisa menyebut dua jenis terjemahan: terjemahan manusia dan terjemahan mesin. Pada terjemahan manusia, proses penerjemahan dilakukan sepenuhnya oleh manusia atau dengan bantuan teknologi komputer. Jika menggunakan bantuan teknologi komputer, penerjemahan ini dikenal juga dengan nama penerjemahan berbantuan komputer (Computer Assisted Translation – CAT). Sedang pada terjemahan mesin, proses penerjemahan biasanya dilakukan oleh mesin dengan bantuan manusia. Penerjemahan ini disebut juga dengan penerjemahan berbantuan manusia (Human Assisted Translation).

Proses penerjemahan berbantuan komputer (CAT) kurang lebih sama dengan proses penerjemahan manual. Penerjemah harus membaca, memahami teks bahasa sumber, menemukan padanannya, dan kemudian menuliskannya ke dalam teks bahasa target. Proses penerjemahan sepenuhnya dilakukan oleh penerjemah (manusia). Alat bantu penerjemahan (CAT tool) hanya digunakan oleh penerjemah untuk memudahkan proses penerjemahan. Beberapa jenis program komputer yang umum dijadikan alat bantu antara lain perangkat Memori Terjemahan (Translation Memory – TM), program kamus elektronik, program manajemen terminologi (Terminology Management), program pengolah kata (word processor), program pemeriksa ejaan dan tata bahasa, dan sebagainya.

Sebaliknya, pada terjemahan mesin (Machine Translation -MT), proses penerjemahan semuanya dilakukan oleh mesin (komputer). Salah satu contoh mesin MT yang mungkin paling populer saat ini adalah Google Translate. Ketika menerjemahkan dengan Google Translate, pengguna tidak perlu terlibat dalam proses penerjemahannya. Pengguna cukup memasukkan teks bahasa sumber yang akan diterjemahkan, menjalankan mesin Google Translate, dan akan langsung mendapatkan hasil terjemahan dalam bahasa target. Pengguna hanya bertugas membantu menjalankan proses penerjemahan yang otomatis dilakukan oleh Google Translate.

Proses penerjemahan yang terjadi di dalam mesin tidak mengikuti proses penerjemahan manual pada umumnya. Mengingat proses ini sepenuhnya dilakukan oleh mesin, unsur bahasa pun diubah menjadi unsur yang dapat dikomputasikan oleh mesin. Pada Google Translate, yang merupakan MT berbasis statistik [Jenis MT lainnya adalah MT berbasis aturan tata bahasa, MT berbasis pengetahuan (KBTS), dan sebagainya], proses penerjemahan tidak banyak melibatkan pertimbangan linguistik. Google Translate hanya memindai sebuah kumpulan teks yang besar, yang berisi teks dalam bahasa sumber dan teks bahasa target yang sepadan, untuk kemudian dianalisis berdasarkan rumus-rumus statistik. Dari hasil analisis itu terciptalah data yang dapat digunakan sebagai basis untuk menerjemahkan.

Contohnya, jika dalam sebuah teks yang sepadan mesin Google Translate menemukan bahwa kata “book” muncul paling sering dalam teks bahasa Inggris, sementara dalam teks bahasa Indonesia kata yang paling sering muncul adalah “buku”, maka Google Translate akan menganggap “book” sebagai terjemahan dari “buku” [tentu saja dalam proses sesungguhnya runtutan prosesnya tidak sesederhana ini]. Kualitas terjemahan pun bergantung pada keakuratan rumus statistika yang digunakan dan kualitas teks sepadan yang dianalisis, bukan pada keterampilan bahasa yang dimiliki oleh mesin tersebut.

Mengenai kualitas terjemahan mesin, Google Translate sendiri mengakui dalam situs  mereka bahwa mesin penerjemahan yang paling canggih sekali pun saat ini belum dapat mendekati kualitas bahasa seorang penutur asli atau belum memiliki ketrampilan seorang penerjemah profesional.  Dengan tegas, Google Translate juga mencantumkan bahwa mereka mungkin akan memerlukan waktu yang lama sebelum dapat menawarkan terjemahan dengan kualitas terjemahan manusia.

Ukuran keterlibatan manusia pada proses terjemahan mesin berbanding terbalik dengan ukuran keterlibatan mesin pada penerjemahan berbantuan komputer. Pada MT, manusia hanya pembantu, sedang pada penerjemahan berbantuan komputer, mesinlah yang membantu pekerjaan manusia. Dalam proses MT, penerjemah biasanya hanya dilibatkan dalam proses penyuntingan. Ketika penerjemahan telah dilakukan oleh MT, penerjemah diminta untuk menyunting hasil akhir terjemahan. Penyuntingan seperti ini biasanya tidak akan banyak meningkatkan kualitas hasil terjemahan MT. Dengan demikian, kualitas akhir hasil terjemahan pun sebagian besar akan ditentukan oleh kualitas terjemahan MT. Sebaliknya pada terjemahan manusia, kualitas akan ditentukan oleh kualitas penerjemah tersebut, bukan oleh alat bantu penerjemahan yang digunakan.

Perangkat MT sendiri tidak dapat dikatakan sebagai sekedar alat bantu penerjemahan karena porsi kerja perangkat MT dalam penerjemahan mesin lebih besar dari pada penerjemah yang hanya melakukan penyuntingan. Oleh karena itu, hasil terjemahan MT tidak bisa disebut sebagai hasil terjemahan manusia, melainkan hasil terjemahan mesin. Jika Anda adalah pengguna terjemahan, dengan adanya fasilitas MT yang mudah diakses seperti Google Translate, Anda harus selalu menanyakan ke penerjemah sebelum melakukan kesepakatan kerja, apakah penerjemah akan menggunakan terjemahan mesin atau tidak. Jika yang Anda harapkan dari hasil terjemahan tersebut adalah hasil terjemahan manusia, dengan kualitas terjemahan manusia, maka sebaiknya Anda tidak bekerja sama dengan penerjemah yang menggunakan MT dalam proses penerjemahannya. Sebaliknya, jika Anda adalah penerjemah, Anda harus selalu bersikap etis dengan memberi tahu kepada klien Anda apakah proses penerjemahan Anda akan melibatkan MT atau tidak. Bagi pengguna alat bantu penerjemahan, masalah etika ini ke depannya dapat dipastikan akan semakin kabur mengingat sekarang ini beberapa perangkat TM mulai memasukkan MT sebagai salah satu fiturnya.

8 thoughts on “Terjemahan Mesin Bukan Terjemahan Manusia

  1. Salam kenal, Ade Indarta. Saya ingin mengungkapkan kesenangan dan kekaguman saya ketika pertama membaca tulisan Anda. Sungguh, saya tidak bermaksud buruk. Saya hanya anak kecil yang ingin melihat sendiri CONTOH KONKRET penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya menemukannya, akhirnya, pada tulisan-tulisan Anda. Baik di blog ini ataupun di Bahtera.org (maaf, saya tahunya hanya itu).

    Sungguh rindu melihat orang Indonesia menulis dengan benar kata-kata lalu menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia. Saya (dengan pengetahuan seadanya) menemukan begitu sedikit orang menulis dengan benar dan begitu sedikit orang yang bisa dicontoh (alias, benar).

    Sederhananya, saya sering menemukan orang menulis “di jual”, “di bantu”, “disini”, dan sebaginya. Saya ketika itu bingung, mana yang benar dan salah. Dengan sedikit mengingat pengalaman belajar ketika SD, ingat dulu pernah diajari menulis. Tetapi, jika dipikir kembali, berarti banyak sekali orang yang sudah melupakan pelajaran bahasa Indonesia ketika SD. Mengingat begitu banyak orang di milis, forum, blog, dan situs web berbahasa Indonesia yang tidak memerhatikan kaidah penulisan yang benar. Bahkan banyak orang-orang terkenal (di dunia TI) yang kurang memerhatikan kaidah penulisan bahasa Indonesia juga. Mungkin ini akibat dari memanjakan diri menyingkat ketika menulis SMS.

    Terima kasih, Ade. Saya sangat bangga dengan Anda. Saya sangat senang bertemu orang yang sepenuh hati menulis tanpa singkatan-singkatan. Maafkan saya jika komentar ini jelek, kotor, atau tidak menyenangkan. Itu semua dikarenakan saya memang tidak begitu pandai menulis.

    Salam hangat dan jabat erat.

  2. Salam,

    Memang benar, terjemahan mesin bukan terjemahan manusia…tetapi kita amat memerlukan mesin untuk membantu proses terjemahan agar ia lebih cepat, lebih mudah dan juga mungkin mengurangkan kesalahan ejaan.

    Justeru itu, saya telah mencipta program untuk menggabungkan Terjemahan Manusia dan Terjemah Mesin. Barangkali anda ingin mencubanya.

  3. Yes, I do agree. Quality of translation depends on the translator itself. For those who don’t know English then Google Translate would be effective. But, “Quality is never an accident, it always needs an intelligent effort” – (John Ruskin).

  4. Ass. salam kenal…. saya orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa inggris, hanya sepotong-sepotong yang sering diucapkan pada umumnya, namun yang mau saya tanyakan, apakah ada teman-teman yang kemungkinan juga ada yang menguasai teknologi IT, barangkali mengetahui software atau alat semacam Handseat atau handspry yang bisa mendengarkan langsung pembicaraan dalam bahasa Inggris yang secara otomatis diterjemahkan melalui alat tersebut. Terima kasih sebelumnya

  5. Salam kenal

    Buat softwarenya butuh waktu yg sangat lama. Punya 1 software bisa mengeluarkan suara (audio) tpi kelemahannya bahasa masih sedikit….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *